SEMUA BERAWAL DARI ANGAN
Fatkhuri eL Sobri
Semilir angin yang berhembus membuat suasana disekelilingku menjadi sejuk, terik
Matahari yang terus berpancar menyalurkan energinya kedalam tubuh lemahku, gemrecik
Air yang terus mengalir seakan-akan menjadi ruang bagiku untuk bertafakur. Pada
saat itu Aku berada ditepi Sungai Mingklik, letak sungai Mingklik kurang lebih
2 km dari Rumahku, apalagi Sungai Mingklik terkenal dengan suasananya yang
mendukung untuk dijadikan tempat
refresing, jadinya tempat itu bisa membuat pikiran yang abnormal(setres)
menjadi normal. Karena keadaan setrategis sungai itu menjadikan setiap orang tertarik untuk
mengunjunginya termasuk Aku. Maka dari itu kalu Aku sedang ada masalah pasti larinya kesungai
Mingklik tapi itu sebagai alternative setelah Aku curhat dengan Ibu dan
biasanya Aku memilih Batu untuk tempatku bersemayam disungai itu, Batu
yang Aku
tempati terletak persis dipinggir sungai, sehingga apabila
kita duduk dibatu itu kita bisa bermainnan Air Sungai yang sangat lembut ditangan. Maklum Air kaki Gunug jadinya
masih alami belum tercemari oleh produk-produk kimia, Batu
itu juga sering disebut Batu Kodok karena rupanya yang mirip Kodok. Kelebihan lain dari infrasetruktur
yang ada disungi Mingklik adalah bisa digunakan untuk meditasi
karena suasananya
yang mendukung
untuk ketenagan jiwa, dengan setruktur angin yang lewat, berlalu dengan sepoi-sepoi, terik Matahari yang
memancarai sungai itu tidak begitu panas karena terhalangi oleh dedaunan
yang rimbun, juga didukung oleh tetumbuhan yang hijau yang bisa
membuat mata sejuk
seperti berada dirungan yang mewah, malah masih sejuk disini karena disini
bangunanya alami.
Angin yang terus
berhembus, Matahari
terus yang
berpancar,
Air yang terus-menerus mengalir, Waktu yang terus
berjalan, Dunia pun ikut-ikutan merubah
wajahnya dengan cara menutup wajahnya dengan kelambu asap, semuanya berubah tapi
jalan
pikiranku tidak berfilsafat sama sekali atau boleh dibilang Aku hanya berdiam
diri tanpa makna. Pasalnya pada saat itu Aku sedang
terombang-ambing
Angin
kehidupan
dengan keadaan tanpa ada akar yang mengikat prinsipku dan
pegangan yang memerkuat gerakku, malah ditambah lagi jalan pikiranaku macet yang tiada
akhir padahal yang Aku harapkan, Aku
bisa berada dalam ruang dan waktuku (jati
diri) , karena saat itu Aku seadang
bingung ,
terjepit oleh keadaan yang
membuatku seperti terlempar sana sini tiada henti, dimana pada sisi
yang satu Aku
ingin sekali
melanjutkan kebangku kuliah supaya Aku mendapat
Ilmu
pengetahuan dan pengalaman yang lebih dari yang lain, setelah Aku mendapatkan
pengalaman yang banyak Aku
berharap,
Aku bisa menjadi
seorang perubah dari keadaan yang buruk menjadi baik dan bisa
memberdayakan SDM dan SDA yang telah difasilitaskan Tuhan kepada kita,
tapi disisi lain orang Tuaku ekonominya sangat terpuruk atau boleh dibilang dibawah
garis standar,
untuk
makan saja kami kadang kesusahan, apalagi untuk biaya kuliah sangat berat buat kedua orang
tuaku,
juga disisi yang satunya lagi dukungan dari pemerintah sangat kurang apalagi
Aku adalah orang Desa, jadinya bantuan yang datang pada kami tidak mencukupi
atau tidak merata sehingga membuat anak-anak yang mempunyai tekad yang besar
untuk berpendidikan terhalang.
Kadang
Aku bertanya dalam diriku sendiri apakah hanya orang-orang Kota yang pantas sekolah????
Padahal yang namanya Ilmu itu wajib bagi semua umat tapi mengapa diskriminasi
dari pemerintah terlihat sangat jelas kalau orang Desa itu tidak pantas
sekolah, orang Desa itu menjadi budak saja bagi bagi tikus-tikus Bangsa,
kalaupun orang Desa mendapatkan fasilitas dari pemerintah mereka harus
benar-benar menguras tenaganya sampai titik
klimak.
Dunia
sepertinya sudah lelah karena wajahnya sudah kelihatan tertutup slimut abadinya,
juga disisi lain ternyata jarum panjang jam sudah menunjukan
diangka 4 dan
jarum pendek sudah diangka 5, itu menandakan kalau waktunya sudah cukup sore. Aku juga
sepertinya sudah putusasa karena tidak ada satu pun solusi yang Aku
dapatkan dari tafakur yang Aku lakukan diatas Batu Sungai
Mingklik.
Rasa bingung, kecewa sudah makin menjadi-jadi hingga membuat tubuh ini seakan-akan
tidak bisa berdiri karena tertimbun rasa binggung dan kecewa yang menggunung,
rasa itu sepertinya membuat Aku hilang separuh kekuatanku sehingga membuat mataku
sedikit rabun, tanpa Aku sadari ternyata
tubuh ini sudah terangkat separuh itu
menandakan kalau Aku sangat lelah dengan keadaanku sampai-sampai tubuh sediri
terangkat saja tidak terasa dan ketika Aku akan menyempurnakan badanku untuk
bangun dari tempat semedi. Aku melihat ada seekor Burung Pentet yang sedang
mengambil akar-akar tetumbuhan yang sudah kering, yang berada disekeliling Sungai Mingklik, Burung itu mengambil akar untuk
dijadikan sarang bertelur supaya keturunan mereka tidak punah, dari situlah Aku
menemukan I’tibar yang berarti juga Aku menemukan solusi yang selama ini Aku
cari untuk dijadikan jalan keluar dari problema-problema hidupku, Setelah Aku
mendapat solusi itu, ucapkan Alhamdulillah secara sepontan keluar dari mulutku
sebagai salah satu rasa syukur kepada Allah SWT, karena dari pandangan itu Aku
bisa menggambil sebuah I’tibar dari apa yang telah dilakukan oleh Burung itu.
Dari burung itu yang diambil I’tibar adalah bahwa sesuatu keadaan tidak
akan berubah kalau dalam diri mereka tidak merubahnya yaitu Burung itu merubah rungnya yang asalnya hanya
ranting-ranting belaka, diubah menjadi
tempat bertelur yang aman. Seperti yang tertera
dalam surat Al Ro’du ayat 11 yang berbunyi” sesungguhnya Allah tidak akan merubah sesuatu
kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”.
Mulai saat itulah sepertinya Aku tersuplai energi baru yang tadinya hanya berfrekuensi 25% bertambah menjadi 75%. Kelihatanya
hari sudah semakin gelap membuatku sedikit takut karena suasananya yang sepi
tidak ada satu orang pun yang berada disungai itu, tanpa basa basi Aku segera pulang
karena pucuk jarum jam sudah hampir menunujukan waktu Maghrib, dikatakan oleh
orang Jawa waktu Maghrib adalah waktu sendekala (waktu yang buruk). Juga
seperti ucapan Al Habib Luthfi bin A’li bin Yahya bahwa waktu Maghrib adalah
waktu pergantian antara siang dan malam jadi disitu terjadi pergantian udara dimana
udara itu apabila dihirup dan masuk kedalamtubuh kita, udara itu akan menyebabkan
tubuh kita tersuplai agen penyakit yang akan membuat tubuh menjadi sakit. Setelah
Aku sampai didepan Rumah, Aku langsung mengetuk pintu dan mengucapkan salam ,
baru saja Aku melangkahkan kaki, Ibu langsung mengintrogasi diriku, “Fat dari
mana kamu? kok tumben jam segini baru pulang, apalagi kamu sudah tidah sekolah,
kemana sajakamu? kalau kamu pulang jam segini membut Ibu merasa khwatir” “Itu Bu
tadi Aku dari Sungai Mingklik”” ngapain?”Enggak Bu, lagi ke pingin aja””owh ya
sudah sana kamu mandi, jangan mandi terlalu malam, karena kata orang kesehatan
kalau mandi sebelum melewati jam 12 kita akan mudah terkena sakit tulang (pege linu)”. Tanpa basa-basi
Aku langsung melakukan perintah Ibu. Dengan cara Aku langsung menuju kamar
untuk mengambil perlengkapan mandi pribadi, kebetulan kamarku berada paling
dekat dari tempatku berdiri saat itu, jadinya tidak usah menghabiskan waktu
yang lama untuk mengambil perlengkapan mandi pribadi. Setelah Aku selesai mandi
Aku langsung siap-siap untuk solat Maghrib dimasjid, setelah selesai persiapan kami
sekeluarga berangkat kemasjid bersama-sama untuk melakukan solat berjamaah
dimasjid Baitul Karim yang terletak kurang lebih 20 m dari Rumahku, kecuali Ibu
yang tidak ikut sholat berjama’ah bersma, pasalnya pada saat itu Ibu sedang ada
halangan, selesai sholat kami sekeluarga pulang kerumah untuk melakukan adat
keluarga kami, yang telah dirintis oleh Ayah untuk menciptakan generasi yang
selalu menjalankan kebaikan (printah Allah SWT).
kami sekeluarga biasanya membaca Al-Qur’an bersama-sama diruangan yang kami
buat khusus untuk berekumpul keluarga, tempatnya persis disebelah ruang tamu, kalu
dari pintu utama rumahku kira-kira berjarak kurang lebih 5 m. Rumah yang kami
miliki adalah rumah sedrhana jadi jarak antara muka rumah dengan belakang Rumah tidak begitu jauh. Biasanya surat Al-Qur’an yang kami
baca sekeluarga adalah surat Yasiin, Al-fatah, Waqiah, Al-rohman, Al mulk. Waktu
yang Kami pakai untuk aktifitas itu
sekitar 45 menit, soalnya Ayah kalau membaca Al-Qur’an sangat teliti pengunaan
tajwidnya, jadinya kami semua harus mengikutinya, selesai kami membaca
Al-Qur’an. Tanpa jeda waktu lama suara adzan Isa berkumandang, jadinya kami
hanya beristirahat sebentar, soalnya biasannya jama’ah sholat Isa lebih dini dibanding
waktu solat yang lainnya. Jadi tanpa mengukuir waktu terlalu lama kami langsung
menegakkan perintah Allah SWT, pasalnya apabila ditunda sebentar saja kami merasa malas
untuk melakukan sholat Isa berjama’ah dimasjid Baitul Karim apalagi kalau sudah
termakan rayuan Televisi susah sekali terpisah darinya untuk bangun mendirikan
sholat Isa.
Semua
akatifitas telah Aku lakukan, biasanya
setelah sholat Isa Aku dan Adikku belajar tentang ilmu Agama bersama
Ayah supaya kita tidak ketinggalan pengetahuan tentang agamanya. karena kata
Albert Enstens kalau orang punya ilmu umum tanpa agama berarti buta dan kalu
orang hanya mementingkan agama berarti lumpuh”. Jadi Aku mempunyai
prinsip agar Aku mendapatkan Ilmu, baik dalam bidang lmu pengetahuan umum maupun
dalam bidang Ilmu Agama. Malah yang lebih Aku utamakan adalah pengetahuan Agama
karena pengetahuan Agama adalah penunjang kecerdasan moral, kalu ilmu umum
lebih dominan kecerdasan intelektualnya, jadinya kita harus mengkolaborasiakan
keduanya dengan harmonis supaya hidup kita bisa bermakna bagi diri sendiri
keluarga, Bangasa dan Negara. Dan juga boleh dibilang walaupun secerdas apapun Intelaktualnya
seseorang tapi tidak punya moral maka orang
itu tidak akan bermanfaat bagi orang lain. Setelah kami belajar tentang Ilmu Agama,
kami langsung belajar pelajaran sekolah yang akan dipelajari besok hari supaya
pelajaran yang Aku peroleh sedikit dami sedikit masuk kedalam otakku dan
tersimpan didalamnya, soalnya kalau kita belajarnya hanya ketika akan ada
ulangan atau yang sering disebut SKS (sistim kebut semalam) itu sulit bagi kita
untuk menyimpan pelajaran yang kita pelajari kedalam memori kita. Diibaratkan saja
ketika kamu menaruhkan Air pada bata merah, kalau kita menaruhnya sedikit demi
sedikit semua Air akan masuk kedalamnya, tapi sebaliknya kalau kita langsung
mengguyrunya satu ember dalam waktu satukali guyuran, Air itu tidak akan masuk
semunanya kedalam bata merah tersebut malah Air itu akan tumpah/melebar
ketempat lain. Maka dari itu Ayah melatih Aku untuk disiplin belajar walau
hanya satu lebar buku satu malam.
Tapi
malam itu semua aktifitas yang biasa Aku lakukan sepertinya, Aku tidak bisa
menjalaninya, soalnya pada malam itu hatiku sedang tidak karuan, kalaupun Aku
belajar sepertinya, Aku kurang konsen dengan
belajarnya, akhirnya Aku putuskan untuk absen dulu malam itu, suasana salju
didesaku sudah semakin menjadi jadi hingga membuat tubuh ini mersa berada
didalam genangan es, apalagi didaerahku kalau hari sudah semakin malam suasana
dingin sangat terasa, malah-malah boleh dibilang dinginya sampai menusuk tulang
tulang dalam tubuh, maklum saja daerahku adalah daerah kaki Gunug, lebih
tepatnya kami sekeluarga tinggal dikaki Gunug Selamet, yang biasa disebut
sebagai pusat tanah Jawa. Berotasinnya dunia berjalannya, waktu beralihnya sang
Raja Galaksi membuat hari menjadi berubah pula, ketika sang tatasurya hilang
dari permukaan dunia mulai munculah pendamping setia Bumi yang memancarkan
cahaya kedamaian, yang biasa digunakan sebagai lambang keindahan. Seperti
biasanya kalau jarum tajam jam sudah menunjukan waktu sepertiga malam maka
tanpa dibangunkan, Aku bisa bangun sendiri tanpa harus di bangunkan orang lain,
walaupun Aku tidur diatas jam 12 Aku bisa bangun sebelum subuh, semua itu adalah
anugrah Allah SWT yang kita semua harus mensukurinya, tapi untuk mendapatkan
semua itu harus ada kemauan dan harapan yang besar dari kita supaya kita
mendapatkan kebaikan dari Allah SWT, Saat Aku bangun, Aku gunakan waktu itu
dengan sebaik mungkin terutama untuk melakukan sholat malam, sebab orang yang
malamnya hanya dihabiskan ditenpat-tempat tidur empuk dengan ruang yang sejuk, malamnya hanya akan
mendapatkan ni’matnya tidur, mereka
tidak akan mendapatkan ni’matnya berkencan dengan sang Pencipta Alam Semesta, itu
semua seharusnya membuat kita bertanya pada diri kita apakah kita termasuk
dalam komuniti orang-orang yang mau berpikir atau kah kita termasuk komuniti
orang -orang yang menyalah gunakan waktu tanpa memikirkan akibat yang akan
datang pada kita dan seharusnya membuat kita bertanya dengan perbuatan yang
kita buat, ketika kita bergadang diwaktu malam, dengan pertanyaan-pertanyaan, mengapa
malam-malamnku hanya dilalaui untuk
menghambur-hamburkan uang, juga waktu malam-malamku hanya digunakan untuk memeriahkan peseta-pesta? Terus mengapa malam-malam
yang indah hanya Aku habiskan untuk melahap sinetron, didepan computer, didepan
internet, ditenpat-tenpat hiburan semu, dijalan dengan obrolan-obrolan yang
tidak berguna, apalagi kalau diiringi dengan tawa lepas dan kegembiraan yang beracun?
Maka dari pertannya itulah, kita bisa menggugah hati dan mata kita menuju yang
lebih baik dan seharusnya semua itu bisa membuat kita bertafakur kepada Allah SWT.
Apakah
perbuatan yang selama ini Aku perbuat sudah mendatangkan manfaat bagi dirinku
maupun orang-orang yang berada disekelilingnku. Sungguh itu adalah penyesalan
yang mengeringkan segala keni’matan semu Dunia, sehingga seolah-oalah mereka
tidak pernah merasakan bahagia sedikitpun walau seujung tajam jarum. Maka dari
itu Aku sedikit demi sedikit berlatih memeneg diriku sendiri untuk menggunakan
waktu yang telah difasilitaskan oleh
Allah SWT, untuk kita berkiprah didunia. Aku juga berlatih menggunakan waktu
seefektif, sefisiendandan seproduktif mungkin, supaya nanti akhirnya Aku tidak
menyesal dengan perbuatan masa laluku yang penuh dengan kenistaan, Karena
penyesalan hanya akan membuat hati kita teriris-iris, penyesalan juga hanya
akan membuat kita berimajinasi yang tidak-tidak, malah-malah yang ditakutkan lagi nanti kita akan berbuat sesuatu yang
diluar kendali otak.
Indahnya
Dunia, Aku rasakan setelah Aku buka kedua mataku, ketika Aku lihat indahnya
Dunia, Aku langsung bangun dari ranjang tidurku, agar Aku bisa berkiprah
diwaktu yang begitu indah ini, soalnya kalau kita tidak langsung berdiri, Setan
akan membisiki kita supaya kita tidak usah bangun, karena rayuan Setan begitu
manjur. Ktika Aku berdiri, Aku lansung berjalan walapun saat itu Aku setengah ngantuk dan Aku memberanikan
menuju Sumur untuk mandi agar rasa kantukku bisa sirna dari
dalam tubuhku, mandi disumur adalah kebiasaanku karena biasanya Aku kalau
bangun jam 3 malam Aku mandinya secara langsung dari air sumur diblakang Rumaku
tanpa melalui selang sanyo tapi langsung dengan timba sumur yang manual.
Aku dapat
pengalaman ini dari seorang ulama yang telah mashur yaitu Bapak K H Zainal
‘Arifin, beliau mengatakan kalau orang yang melanggengkann (membiasakan) mandi
sepertiga malam, dengan syarat mandinya langsung dari air sumur/air sumber yang
tidak menggunakan perantara yang banyak, InsaAallah dengan izinnya oarng itu
akan awet muda, pikirannya fresh, kapasitas volume otak juga akan meningkat.
Makanya Aku ingin selalau melakukan saran itu sebagai sarana usahaku memperbaiki diri dengan usaha meminta
kebaikan kepada Allah SWT. Selaesai mandi Aku langsung ganti baju dan siap-siap
menghadap Tuhan Alam semesta, untuk memohon ampunan dan kebaikan-kebaikan
didunia maupun diakherat, karena hanya Allah SWT yang akan memberi segala
permintaan hamba-hambanya.
Setelah
selesai berdo’a Aku jadwalkan detik itu untuk bertafakur kepada Allah SWT dan
merenungi perbuatan apa yang telah kita lakukan selama satu hari merenungi
ni’mat-ni’mat yang telah difasilitaskan Allah SWT kepadaku.Juga Aku renungi
apakah solusi yang Aku dapatkan saat besemedi disungai Mingklik akan baik untuk
kehidupanku, karena sesuatu yang baik menurut manusia belum tentu baik menurut
Allah SWT.
Karena
menurut orang-orang Alim waktu yang baik untuk bertafakur adalah ditengah malam,
saat itulah saat kosong bebas dari aktifitas, nantinya akan membawa dampak
positif pada hati kita, untuk melakukan tafakur Aku memulai dari merenugkan
diri dan bertanya siapa Aku ini? Dari mana berasal dan akan kemana setelah
tubuh telah kaku tidak berdaya sama sekali? Dan Aku juga menggunakan sisi sosial
untuk membangun jiwaku menjadi insan yang baik dengan cara Aku membayangkan
saudara-saudaraku yang mempunyai tekad, keberanian, dan semangat yang begitu
besar untuk menjalani proses pendidikan walau mereka harus mengorbankan waktu
mereka untuk kuliah sambil bekerja demi mengejar cita-cita atau dalam
istilahnya mereka berani melawan arus yang begitu deras untuk mengambil sesuatu
dibalik Air itu, maka dari itu Aku bertekad untuk menjadi manusia yang selalu semangat
dan positif tingking supaya Aku tidak mudah minder kalau ada fenomena yang
sedikit mengiris kita, malam itu pula Aku ciptakan prinsip yang kuat dengan
bentuk prinsip “Aku akan melawan arus kehidupn dengan usaha yang keras tidak
pantang menyerah juga melihat kemampuan yang Aku miliki”.
Jawaban-jawaban
dari pertannyaan-pertanyaan yang ada dalam benakku satu-persatu menghampiriku,
kemudian terbuka dalam dokumen memoriku. Alhamdulilah dengan izin Allah SWT
malam itu Aku menemukan solusi untuk mensongsong masa depan yang cerah ya walaupun belum tentu itu adalah sesuatu
yang baik untuk selama hidupku, tapi Aku yakin ini adalah hidayah dari Allah
untukku menyusuri jalan hidup ini. Isi dari hidayah yang telah Aku dapatkan
intinya yaitu Aku akan tetap melanjutkan keperguruan Tinggi dengan cara
membiayai kuliah sendiri, dengan upaya sekuat tenagaku, Aku akan berdagang
asongan atau Aku kuliah sambil bekerja yang pekerjaan itu tidak menggang kuliahku,
dan untuk masalah penginapan, Aku memutuskan untuk menjadi ta’mir Masjid, ya
walaupun Ilmu Agama yang Aku miliki sangat sedikit tapi semoga Ilmu itu bisa
bermanfa’at bagiku, juga orang-orang disekeliling Masjid yang akan Aku tempati
nanti.
Tanpa Aku
sadari ternyata suara kokok Ayam-Ayam
yang menjadi penanda bahwa waktu sudah pagi, mulai terdengar ditelingaku, tidak
lama dari itu suara kumandang Adzan mulai terdengar juga, suara Adzan itu
mengguagah Aku dari asiknya berkencan dengan Tuhan Alam Semesta.
Karena Rumahku
tidak begitu jauh dari Masjid, maka setelah mendengar Adzan Aku langsung menuju
Masjid untuk mengumandangkan Adzan Subuh walaupun suara Aku tidak sebagus Ust
Mu’amar ZA tapi Aku dengan percaya diri mengumandangkan Adzan diMasjid Baitul
Karim.Seperti kebiasaan didesaku kalau sudah selesai mengumandangkan Adzan,
maka setelahnya disambung dengan melantunkan solawat Nabi, disamping sebagai
tanda cinta pada Nabi juga digunakan sebagai sarana untuk menunggu para jama’ah
yang masih berada dijalan, sehingga mereka bisa mengikuti jama’ah secara
sempurna.
Setelah
sholat Subuh terlewti tanpa terasa sang Raja Galaksi sudah menampakan wajahnya
yang penuh dengan sinar kesemangatan, sinara-sinarnya yang masuk kedalam Rumahku
lewat lubang-lubang ventilasi, itu menjadi warna tersendiri bagi diriku yang
sedang menyusun rencana untuk pergi kedunia pendidikan, cahaya yang lewat
ventilasi itu terdeskripsi bagaikan sebuah akar yang mengikat prinsip hidupku, juga
mengandung sebuah makna kalau kita harus selalu berusaha walaupun pada awalanya
kita hanya mempunyai sedikit modal untuk menuju masa depan yang lebih maju.
Prinsip yang Aku pegang adalah bahwa Aku harus mencari Ilmu, walaupun Aku harus
menguras seluruh keringatku untuk menebus mahalnya ilmu, sebab orang yang mencari
Ilmu akan dido’akan oleh seluruh mahluk yang ada didunia ini dan orang yang
mempunyai Ilmu akan diangkat derajatnya oleh Allah SWT.
Sinar
Matahari pagi mulai terasa panas oleh indra perabaku, orang-orang Desa sudah
banyak yang terlihat berjalan menuju ladang untuk mencari nafkah dohir untuk
dirinya dan keluarganya, setelah mereka mendapatkan itu semua mereka gunakan harta mereka untuk menjadi
bekal beribadah kepada Allah SWT. Tapi Aku sebagai anak muda malah kalah jauh
dengan mereka sebab Aku masih santai-santai sambil bersandingan dengan
cemilan-cemilan yang menemani pagiku, saat itu Aku berada disofa ruang tamu
yang bertempat diruang tengah Rumahku.
Hari ini
adalah hari baru bagi Aku dimana, Aku pada hari ini akan mencoba mengaktifkan
tinta Mas yang telah Aku beli tadi malam atau hari ini hari pertama bagai Aku
untuk menjadi pejuang bagi diriku sendiri, itu semua sebagai implementasiku
dari perenungan yang telah Aku lakukan tadi malam, dengan tujuan mencari jalan
keluar dari masalah yang telah mengikat
perasaaan gelisahku atau lebih tepatnya Aku mencari jalan keluar untuk melewati
masa bingungku yaitu mencari kendaraan untuk menuju cita-citaku untuk bisa
melanjutkan kuliah pada tahun ini.
Karena
pada era ini untuk mrelanjutkan kebangku kuliah membutuhkan power yang handal
dan tahan banting, baik itu power konkrit maupun itu power abstrak. Apakalagi
di era sekarang ini perbedaan yang sangat mencolok antara kampus yang bersetataus Negri dengan kampus yang
bersetatus swasta. Dengan makna kalau kampus yang bersetatus Negri
sudah pasti mendapat perhatian yang lebih dari Pemerintah
baik dari segi fisik maupun dari segi non fisik, sebaliknya
kalau kampus Swasta
dibiarkan berkembang sendiri tanpa adanya perhatian yang sama dengan kampus
Negri. Seharusnya
pemerintah proporsional dalam membagikan fasilatas kepada seluruh instansi
pendidikan, tanpa memandang kampus itu bersetatus Negri ataupun kampus itu
bersetatus Swasta, karena yang menjadi tunas Bangsa bukan hanya orang yang
berkuliah dinegri saja tapi orang yang berkuliah di kampus Swasta pun bagian
dari Again of the cenger Negara kesatuan Republik Indonesia. Itu semua akan
membuat orang-orang yang berkuliah dikampus Swasta meris dengan apa-apa yng
telah pemerintah fasilitaskan kepada kampus Negri, itu semua akan menjadikan
salah satu penunjang keruntuhan Negara ini, karena kurang adilnya pemerintah dalam
mengayomi anak-anak Bangsa.
kehancuran
Negara juga akan tercipta dari sisi kecurangan-kecurangan yang dilakukan Mahasiswa
kepada orangtuanya, yang mereka diberi amanat untuk mencari Ilmu, malah mereka gunakan
hanya untuk mencari pacar, dari Rumah mereka berangkat, yang seharusnya untuk
bertemu GFuru untuk mendapatkan ilmu yang akan membawa kepada hal positif tapi
malah mereka berangkat dari Rumah untuk bertemu kekasihnya sehingga yang mereka
dapatkan adalah anak diluar nikah, yang akan membuat mereka menderita didunia
karena malu dan akan mendapatkan penderitaan diakherat karena melanggar
perintah Allah SWT.
Juga
kecurangan Siswa yang menipu Gurunya saat tes berlangsung, maupun kecurangan
yang dilakukan oleh para oknum-oknum yang membocorkan kunci jawaban Ujian
Nasional, itu semua seharusnya menjadikan diri kita kritis dalam menanggapai
itu semua dengan cara kita menjadi seorang pejuang bagi Bangsa, juga
menimbulkan pertannyaan bagi diri kita, gimana tunas-tunas Bangsa ini akan jadi
orang yang jujur, dari kecil saja mereka sudah diajari untuk berkorupsi.
Padahal Anak-Anak didik adalah sebagai pemimpin masa depan yang memimpin Negara
ini menuju Negara yang lebih baik, tapi malah mereka menjadi kuman-kuman Bangsa
yang menggrogoti tiang-tiang yang dibangun oleh para pendiri Bangsa kita. Dari
kecurangan-kecurangan yang terdaftar diatas adalah kenyaatan yang terjadi
disekeliling kita.
Maka dari
itu Aku berusaha untuk masuk menuju dunia kampus dengan melewati pintu yang
benar supaya nanti apa yanag akan Aku cari produknya bias bermanfa’at bagi
diriku maupun kedua orangtuaku, keluargaku maupun bangsa dan negaraku. Setelah
Aku tau akibat apa yang akaan Aku rasakan ketika Aku kuliah dengan biayaku
sendiri, Aku dengan penuh percaya diri dan penuh semangat menghadap Ayah dan
Ibu untuk meminta izin kalau Aku akan berkukliah diluar Kota yang berarti Aku
mennggalkan mereka.
Gemuruh Angin
pagi terus berkibar tanpa henti sedikitpun, enakanya bau makan tetangga pun
tidak henti-hentinya menyanbar hidungku hingga membuat lambungku merasa
keroncongan. Begitupun semangatku untuk bisa menjadi orang yang bermakna tidak
ada putus-putusnya walapun hujan badai telah mmenghadang, tapi semangatku tetap
beselancar dengan kuatnya. Setelah semuannya siap Aku langsung menghadap Ibu
dan Ayah yang pada saat itu mereka berada dibelakang Rumah, mereka sedang
ngobrol-ngobrol, entah ngobrol tentang apa mereka. ”asalmualaikum, Bu, Yah” “Walaikusalam Fat” ”ada apa?””Bu Aku mau minta
izin, Aku mau mendaftar kuliah dipekalongan” “Apa………. Fat? Kamu mau daftar
kuliah, uang dari mana untuk perjalan kamu nati kalau sudah kuliah” seketika itu
Aku hanya bisa berdiam seribu kata karena menurut daya tangkapku sepertinya Ibu
marah denganku, tapi dengan tegas Aku menjawab pertannyaan Ibu ”Bu, Ibu jangan
berpikir negative dulu kan yang mau member rizqi adalah Allah SWT, mengapa Ibu
sepertinya mendahului takdir, yang paling penting adalah Ibu berusaha dan
berdo’a kepada Allah insaAllah rizqi akan kita dapatkan Bu, nanti juga Aku akan
kuliah sambil bekerja supaya Aku bisa membiayai kuliah sendiri dan itu tidak
akan memberatkan Ibu dan Ayah. Seketika itu juga Ibu dan Ayah meneteskan air
matanya sebagai tanda rasa kasihan sekaligus mereka mersa bangga denganku
karena Aku begitu bersemangat untuk mencari ilmu walaupun badai sudah siap
untuk menerkam didepanya. Mereka juga berkata kalau Aku belum pantas banting tulang,
soalnya Aku masih terlalu dini untuk memeras kringat untuk mencari uang, Aku
juga ikut-ikutan menangis karena Aku bangga, Aku punya orang tua yang mendukung
cita-citaku.
Berangkat
dari semangat yang menggebu-gebu dari dalam diriku dan didukung oleh
motivasi-motovasi dari kedua orang tuaku Aku berani berjalan menuju apa yang
telah Aku susun selama ini yaitu Aku menyusuri jalan menuntut ilmu, walapun
angin-agnin tetangga membuat telingaku seakan-akan mau pecah, tapi semangat
dalam diriku selalu berkobar. Aku berkata
dalam dirikum bahwa Aku adalah Aku yang akan menjadi Hero, walaupun hari ini
Aku masih Zero, Aku juga ingin menjadi seorang revolusioner.
Setelah semunya
dipersiapkan Aku memberanikan diri berangkat kepekalongan sendiri dengan uang
saku yang ngepres tapi Alhamdulilah dengan niat yang tulus dan bagus Aku bisa
ditermia diunfersitas yang ada dipekalongan,
itu menandakan apa yang telah Aku
cita-citakan tercapai dan aku akan bermakna dikacamata Masyarakat.

