Minggu, 05 November 2017

KESUNYIAN DIBALIK KEBAIKAN




KESUNYIAN DIBALIK KEBAIKAN
Fatkhuri eL Sobri

Waktu terus berjalan mengakibatkan semua yang ada didunia melakukan  metamorfosa, kecil menjadi besar, bodoh menjadi pintar,  tanpa ternafikan keburukan pun mengiringi perubahan-perubahan itu, fenomena itu satu persatu tak pernah nihil akujumpai,  hingga membuat hidupku seakan bosan dengan atmosfer yang tak menentu ini, matahari yang begitu besar manfaatnya juga seakan tak mempengaruhi pemikiran burukku terhadap kehidupan dunia ini, yang semakin lama membuatku tak betah didunia. ingin rasanya aku berpindah pelanet, tapi semua yang ada dalam pemikiranku samapai hari ini rasanya tak mungkin aku lakukan karena semunya membutuhkan biaya yang tidak semudah membeli jajan pasar.
Matahari pagi mengajakku berkeliling desa untuk melihat indahnya dunia tanpa campur tangan manusia serakah yang tidak pernah memikirkan akan akibat dari perbuatan yang dilakukanya, baik itu untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain, tapi rasanya badan ini belum siap untuk kuajak berinteraksi dengan semua mahluk hidup yang sudah dari pagi memanggilku untuk berolahraga pagi bersamanya. Bumi tak henti-hentinya berputar pada porosnya hingga membuat matahari terlihat semakin tinggi dan semakin membuat duniaku terasa makin panas membuat aku tak betah berada di kamar kecilku. Berdiri aku untuk pergi kekamar mandi untuk membersihkan badan dan mengguyur badan supaya kelihatan segar dan meghilangkan rasa sungkan yang sedang membaluti tubuhku. Tapi antara setan dan malaikat yang berada disampingku terus membisiku dengan kapasitas mereka, membuat aku merasa bingung dengan keadaanku sekarang, tapi karena suasana dikamarku mendukungku untuk berdiri, sinar matahari seakan menarik aku untuk kekamar mandi membersihkan badan. Maka terpaksa dengan rasa sungkan, aku pergi kekamar mandi. Mandi pagi dengan hawa menyerupai kutub utara sudah aku lewati kini tinggal menghias badan untuk menunjukan nilai estetika kepada dunia luar. Selesailah sudah persiapan untuk menyonsong hidup hari ini.
Keadaan memaksaku untuk berinteraksi dengan dunia luar badanku, hingga membuat aku melakukan hal yang sesuai dengan lingkungan yang aku tempati, aku adalah seorang pegawai pemerintahan di salah satu kota diindonesia tepatnya aku tinggal di desa  korup kecamatan nepotis dan kabupaten kolus, kebetulan aku disana menjadi sekertaris di intansi tersebut. Hari demi hari rasanya aku sudah muak dengan kondisi yang aku alami, dinamika kantorku seakan menjadi api yang selalu berkobar,  sedikit saja aku bergerak tanpa iman maka aku akan terbakar oleh kobaran api itu, rasanya aku ingin mematikan api itu, tapi aku tak punya daya karena saya hanya seorang bawahan yang mepunyai kapasitas sebagai pelayan dari raja dikantorku,  Raja bilang A maka saya harus melakukan A, Raja bilang B maka saya harus melakukan B. Itulah kondisi yang aku alami saat ini. Tapi disela-sela kobaran api itu, aku selalu mengabil i’tibar yang nantinya bisa menjadi senjata paling ampuh, akan saya tancapkan pada saat yang pas, disamping itu, aku juga selalu berdo’a pada yang mahakuasa, untuk selalu dilindungi dari segala yang akan memasukkan aku kelubang kesesatan.
Angin dan debu selalu bekerjasama menampakan dirinya untuk eksistensinya dihadapan para mahluk ciptaan tuhan lainya, agin tanpa debu hanya akan terasa, debu tanpa angin hanya betuk yang tak bisa bergerak. Itulah sejatinya kehidupan manusia, manusia adalah mahluk sosial yang tidak akan pernah bisa hidup sendiri, tapi kerjasama-kerjasama yang dilakukan manusia ada batasan dan ada etiknya, melihat realita dikantorku seakan konsep utama manusia sebagai mahluk sosial terlaksana dengan baik, tanpa ada sedikit cacat yang terlihat, dengan keadaan mulus bagai langit tanpa awan, tapi dibalik kemulusan itu kerjasama yang dilakukan adalah kerjasama dalam hal kebatilan mereka malakukakan beberpa hal yang outputnya kan merugikan manusia disentereo kabupaten kolus.
Mereka melakukan nepotisme, korupsi, tanda tangan palsu, disuap dan masih banyak kerjasama yang mereka lakukan, aku disitu sebagai saksi dengan mata telanjang dan telingan terpampang seakan  hatin aku tertusuk,  seakan  saya disitu mati dalam kebodohanku, mulut ini tidak bisa berbuat apa-apa, tangan ini hanya bisa memainkan jari ketakutan dan ketidak sepakatan, hati ini menagis tanpa mengelurakan air, jantung ini berdetak tanpa mengnal lelah karena seakan dikejar anjing, mata ini sebagai monitor yang menyalurkan ketakutan yang dibawa oleh sensori menuju keotak untuk disalurkan kepada seluruh parsial-parsial tubuhku.
Waktu terus bergulir seakan dunia semakin hari semakin membenci mahluk yang namanya manusia, bukan benci secara fisiknya tapi benci secara ahlaknya, karena pada hakikatnya manusia kalau diambil kata dari bahsa arab memang manusia itu ada dua bentuk kalimat yang pertama itu holako yang dalam kata kerjanya menjadi mahluk yang berarti yang diciptakan oleh sang pencipta yaitu kholik, dalam hal ini dimanifestasikan menjadi bentuk fisik manusia. Kemudian dari kata yang kedua yaitu khulukun yang bentuk kata kerjanya menjadi ahlak atau dimanifestasikan menjadi budi pekerti atau moral manusia, maka dalam hal ini bumi bukan membenci secara fisik, tapi bumi membeci manusia  secara moralnya yang buruk yang sealu berambisi dengan kepentingan-kepentingan untuk memuaskan dirinya sendiri mulai kebejatan hawa nafsunya seperti, merusak hutan, membunuh hewan yang menjadi keseimbangan berjalanya alam ini. itulah manusia yang serakah, bukan hanya itu yang dilakukan manusia. Manusia juga melakuakan kecurangan-kecurangan dengan manusia sendir,i mulai dari berlaku riba, membohongi saudara sendiri sampai pada tingkatan tinggi yaitu yang biasa disebut KKN (korupsi kolusi dan nepotisme). Itu semua adalah keadaan yang setaip hari aku saksikan dalm monitor orsinil kantorku.
Bulan saakan ikut protes dengan keserakahan manusia, terlihat dimalam hari yang nan indah bulan seakan membisiku untuk memberanikan diri untuk melaporkan kejadian yang terjadi didunia nafkahku, pikiranku selalu berperang antara ya dan tidak, karena memang pada hakikatnya manusia adalah mahluk yang diciptakan terakhir, sehingga dalam diri manusia terutama pada hati manusia yang menjadi sutradara diri manusia, terkumpul  esensi dari malaikat, jin, setan, iblis, sehinga keadaan itu membuat batin dan pikiranku selalu berperang. Antara aku harus menjadi oposisi  atau aku akan tetap menjadi budak para pecundang bangsa, tapi semua itu tak mampu aku memutuskanya karena semua itu ada konsekuensi yang aku jalani nantinya.
Matahari pagi mulai muncul kembali dengan wajah yang lebih cerah, membuat tanaman mersa senang karena kebutuhan pokok mereka terpenuhi, tidak hanya tubuhan yang mersa senang hewan-hewanpun merasa senang dengan kehadiran sang raja surya yang memberikan vitamin K pada tulangnya, manusia  sebagai mahluk yang tak punya hati nurani juga ikut merasa senang dengan  kedantangan sang raja surya penyuplai cahaya untuk seluruh mahluk yang tinggal di galaksi. Seperti biasaanya aku berangkat kekantor menggunakan sepada motor bututku yaitu Astrea tahun 45, dengan kondisi ketika berlari bareng dengan kerbau mungkin kecepatanya sama, dengan rasa senang aku berangkat kekantor dengan dianter oleh ibundaku tercinta sampai batas pintu rumahku, dengan diakhiri salaman dan cium tangan,  juga diiringan doa sang bunda yang berbunyi. ”hati-hati di jalan nak dan jadilah manusia yang jujur dalam keadaan dan tempat manapun, ingat nak Allah SWT tidak tidur dia punya dua mahluk pencatat pencatat yaitu malaikat  rokib dan malaikat atid yang akan mencatat amal buruk dan  baikmu” mendengar pesan sang ibu membuat hatiku seakan luluh lantah tak mempunayi daya apapun membuat tulang-tulang ini seakan tak ada kekutan kalsium dan  besi yang terkadung didalamnynya. Denga terbatah-batah aku mengucapkan kata-kata balik pada ibuku ” “iya bu saya juga minta donya ibu”. Dengan hati yang gemuruh mendengar ucapan ibu tercinta, aku seakan tidak memerdulikan akan semua yang berada disampingku entah motor, sepeda seadainya didesaku ada kontenerpun suara kontener, tidak aku dengan suaranya dan tidak aku lihata wujudnya, tanapa terasa sampailah juga di kantor tercinta yang penuh dengan kemunafikan didalamya. Dengan hati-hati aku turun dari motorku, kemudian setandar motor aku turunkan supaya motor terbaiku tidak robah, helem terbaiku juga kucopot, semuanya peralatan penunjang bekendara aku lepas semua, sedikit demi sedikit aku langkahkan  kakiku menuju kantorku, sepintas aku melihat seakan ada setan dan jin yang baru keluar dari kantorku dengan membawa darah  dan daging para rakyat jelata yang tidak tau apa-apa. “tapi itu kayaknya hanya halusinasi saja” itu ujar hatiku’ perjalanan  aku lanjutkan dengan melakukan jalan yang penuh dengan wibawa, seakan saya sebagai perwakilan yang rakyat yang sesungguhnya  padahal saya hanya menjadi budak para pemegang kekuasan yang katanya menjadi bapak dari raktyat tapi kenyatanya mereka adalah ayah yang makan daging anaknya sendiri, mereka lebih kejam dari pada haraimau, harimau tidak akan pernah makan anaknya sendiri, tapi manusia makan darah dan daging anaknya sendiri, itu manusia bejat yang tidak punya perasaan. Sesamapainya aku di kantor, tanpa basa basi aku duduk ditempat duduk yang telah disediakan oleh rakyak untuk mahluk sebodoh aku. Taklama aku duduk, aku di panggil untuk menghadap atasan.
Sob........sob.......sob, itulah panggilan akrabku ketika di panggilolah  atasanku, tanpa menunggu beduk masjid, aku langsung mendekat tanapa ada rasa sungakan sedikitpun, dengan gaya pelari tingakat internasional, aku mendekati atasanku, dengan memasang wajah ketidak tahuan dan berpras ahlak sok taat kepada  atasan. Ada apa pak memanggil saya....? Sini duduk dulu sob, diruang yang penuh dengan AC yang menjadi manifestasi teriakan rakyat, dengan melihat TV yang menjadi manefestasi gambar-gambar orang miskin dipinggir jalan dengan melihat tumpikan file yang sok penting sebagai menifestasi kesalahan-keshalaan yang menumpuk pada pejabat-pejabat yang suka manipulasi.
Udara dalam ruangan tersa panas bagai panasnya matahari didunia Arabsaudi, membuat tubuh ini bercucuran keringat hingga baju kemeja yang aku pakai basah bagai tersiram air,  semua itu adalah simbol yang aku alami diruangan atasanku, disaat itu aku ditawari uang dengan tumpukan jumlah jari, tapi uang itu bukan sebagai sodakoh ataupun sebagai hibah dari atasan kepadaku karena kinerjaku yang sangat memuaskan atasan, ataupun uang itu adalah tunjangan gaji dari pemerintah untukku yang sudah lama aku mengabdi pada.  negara tapi uang itu adalah sebagai tahu sumpel untuk menutupi mulutku, dengan harapan aku tidak membeberkan kecurangan yang dilakukan oleh mereka, rasanya aku sedang berada pada jurang dengan angin besar dan tali yang untuk pegangan tinggal satu utas, kalau tali itu lepas maka aku akan terjatuh pada jurang tersebut, begitupun aku saat ini kalau aku tidak bisa menjaga imanku maka aku akan terperosok pada jurang kehinaan dengan menerima uang tersebut, dengan wajag bingung dan tak tau apa yang akan diucapakan, aku angkat kepalaku aku putar mataku  kekanan kekiri seakan aku serbagai detektif konan yang sedang mencari masalah kemudian diselesaikan, hari itu mungkin esensinya sama saya sedang melakukan pencarian apa yang akan saya lakukan disaat yang sangat menegangkan ini, lama aku diam tak bersuara tapi dengan badan yang bergoyang-goyang, sampai-samapi atasanku memenggilku dengan nada yang agak keras. “sob................Sob......., bagaimana....? rasanya pertannyan itu hanya sebagai suara semut yang tidak akan pernah terdengar oleh mahluk manapun kecuali oleh semut itu dan nabi sulaiman AS, suasana ruangan seakan menjadi jembatan wot siritol mustaqim, aku bingung dengan seribu kebingungan, dalam hati aku berdo’a kepada  Allah SWT Ya Allah berikan hamba kekuatan untuk menghadapi cobaan ini, Ya Allah Yang maha pemberi kekuatan Kuatnkanlah imanku dan jagalah aku dari fitnah dunia yang fana ini, dengan renungan itu pesan dari ibundaku juga tiba-tiba lewat dan mengingatkanku akal mana hal yang baik dan man hal yang buruk, dan menunujukanpada jalan yang lurus yaitu jalan meuju pada segala sesuatu yang diridhoi oleh Allah SWT, “hati-hati di jalan nak dan jadilah manusia yang jujur dalam keadaan dan tempat manapun, ingat nak Allah SWT tidak tidur dia punya dua mahluk pencatat pencatat yaitu malaikat  rokib dan malaikat atid yang akan mencatat amal buruk dan  baikmu”. Dengan itulah kebingungan yang ada dalam batinku sedikit demi sedikit hilang.
Sob ....itulah kata pertama yang aku dengar lagi dari atasanku, ya ada apa pak.....? kamu itu dari tadi ditanya bapak, Aduh Ma’af pak saya sedang banyak pikiran jadi kurang fokus dengan pertanyaan bapak” itulah alibi yang aku keluarkan supaya saya bisa mencari jawaban lain untuk menolak uang dengan jumlah sesuai tumpuk jariku, gini sob bapak ada proyek pembangunan jalan didesa, dan kamu adalah satu-satunya orang yang tau akan semua hal yang dilakukan bapak, jadi bapak minta kepada kamu untuk tutup mulut akan hal yang akan dilakukan bapak gitu sob maksundnya, pak aku bertanya sok polos dan sok tidak tau, suasana sudah agak mendingan membuat pikiranku bekerja dengan sedikit kejernihan.
Rasa takut memang sudah agak hilang dari jiwaku tapi apakah akau akan kuat denag semau cobaan ini yang sekarang sudah ada didepan mataku, apakah tidak adfa setan dyang sekatrang akan menariku kedalam lubang kesesatan kalu lubang itu sekarng sudah didepan mataku, tapi dengan rasa keberanian aku berniat dalam hati dan aku susun setrategi yang cukup baik dan lihai untuk menolak semua tawaran dari atyasanku walaupun itu hanya sebatas data tanpa aku diberi uang panas yang akan membakarku didunia dan di akherat nanti.
Dengan kterpaksaan aku ucapkan pada atasanku “dengan segala hormat dan ta’dimku pada panjenengan saya minta maaf yang sebesar-besarnya, saya tidak bisa bantu bapak dalam hal ini, mungin kalau ada hal lain yang ingin bapak inginkan dari saya selain hal yang sedemikan itu serupanya saya mungkin bisa bantu pak”. Suasana menjadi hening antar aku dan atasnku menjadi dua sejoli yang seakan tidak pernah kenal tidak mau kenalan, semua barang-barang tak bernyawa dalam ruangan itu seakaan menjadi saksi bisu atas keberanian aku dalam melakukan tindakan penolakan terhadap penghianatan terhadap rakyat jelat, yang ditipu denga kedok negara bersistem demokrasi, tapi nyatanya hanya sebagai label semata sedangkan prakteknya menjadi negara denga sistem kepentingan kau elit semata.
Denag rasa hormat dan ta’dimku pada atasanku aku dengan rasa sedikit kikuk, aku pamit untuk klembali ke meja kerja saya, pak saya pamit dulu pak, saya mau menyelesaikan tugasku pak”. Suasan hening itu tak membuat suaraku terdengar oleh atasanku, hinga aku mengulangi perkataanku tiga kali, setelah tiga kali atasanku mengatakan, sob tolonglah bapak, pak maaf dalam hal ini saya tiodak bisa membantu bapak, pak ingatlah firman Allah SWT. ”jangan tolong menolong dalm hal keburukan tapi tolong menolonglah dalam hal kebaikan”. Akhir kata itulah yang mengakhiri ekpedisiku dalam melawan hawa nafsuku dengan stimulus dari atasnku untuk disuap uang rakyat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar