KESUNYIAN DIBALIK KEBAIKAN
Fatkhuri eL Sobri
Waktu
terus berjalan mengakibatkan semua yang ada didunia melakukan metamorfosa, kecil menjadi besar, bodoh
menjadi pintar, tanpa ternafikan keburukan
pun mengiringi perubahan-perubahan itu, fenomena itu satu persatu tak pernah
nihil akujumpai, hingga membuat hidupku
seakan bosan dengan atmosfer yang tak menentu ini, matahari yang begitu besar
manfaatnya juga seakan tak mempengaruhi pemikiran burukku terhadap kehidupan
dunia ini, yang semakin lama membuatku tak betah didunia. ingin rasanya aku
berpindah pelanet, tapi semua yang ada dalam pemikiranku samapai hari ini
rasanya tak mungkin aku lakukan karena semunya membutuhkan biaya yang tidak
semudah membeli jajan pasar.
Matahari
pagi mengajakku berkeliling desa untuk melihat indahnya dunia tanpa campur
tangan manusia serakah yang tidak pernah memikirkan akan akibat dari perbuatan
yang dilakukanya, baik itu untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain, tapi
rasanya badan ini belum siap untuk kuajak berinteraksi dengan semua mahluk
hidup yang sudah dari pagi memanggilku untuk berolahraga pagi bersamanya. Bumi
tak henti-hentinya berputar pada porosnya hingga membuat matahari terlihat
semakin tinggi dan semakin membuat duniaku terasa makin panas membuat aku tak
betah berada di kamar kecilku. Berdiri aku untuk pergi kekamar mandi untuk
membersihkan badan dan mengguyur badan supaya kelihatan segar dan meghilangkan
rasa sungkan yang sedang membaluti tubuhku. Tapi antara setan dan malaikat yang
berada disampingku terus membisiku dengan kapasitas mereka, membuat aku merasa
bingung dengan keadaanku sekarang, tapi karena suasana dikamarku mendukungku
untuk berdiri, sinar matahari seakan menarik aku untuk kekamar mandi
membersihkan badan. Maka terpaksa dengan rasa sungkan, aku pergi kekamar mandi.
Mandi pagi dengan hawa menyerupai kutub utara sudah aku lewati kini tinggal
menghias badan untuk menunjukan nilai estetika kepada dunia luar. Selesailah
sudah persiapan untuk menyonsong hidup hari ini.
Keadaan
memaksaku untuk berinteraksi dengan dunia luar badanku, hingga membuat aku
melakukan hal yang sesuai dengan lingkungan yang aku tempati, aku adalah
seorang pegawai pemerintahan di salah satu kota diindonesia tepatnya aku
tinggal di desa korup kecamatan nepotis
dan kabupaten kolus, kebetulan aku disana menjadi sekertaris di intansi
tersebut. Hari demi hari rasanya aku sudah muak dengan kondisi yang aku alami,
dinamika kantorku seakan menjadi api yang selalu berkobar, sedikit saja aku bergerak tanpa iman maka aku
akan terbakar oleh kobaran api itu, rasanya aku ingin mematikan api itu, tapi
aku tak punya daya karena saya hanya seorang bawahan yang mepunyai kapasitas
sebagai pelayan dari raja dikantorku, Raja
bilang A maka saya harus melakukan A, Raja bilang B maka saya harus melakukan B.
Itulah kondisi yang aku alami saat ini. Tapi disela-sela kobaran api itu, aku
selalu mengabil i’tibar yang nantinya bisa menjadi senjata paling ampuh, akan
saya tancapkan pada saat yang pas, disamping itu, aku juga selalu berdo’a pada
yang mahakuasa, untuk selalu dilindungi dari segala yang akan memasukkan aku
kelubang kesesatan.
Angin
dan debu selalu bekerjasama menampakan dirinya untuk eksistensinya dihadapan
para mahluk ciptaan tuhan lainya, agin tanpa debu hanya akan terasa, debu tanpa
angin hanya betuk yang tak bisa bergerak. Itulah sejatinya kehidupan manusia,
manusia adalah mahluk sosial yang tidak akan pernah bisa hidup sendiri, tapi
kerjasama-kerjasama yang dilakukan manusia ada batasan dan ada etiknya, melihat
realita dikantorku seakan konsep utama manusia sebagai mahluk sosial terlaksana
dengan baik, tanpa ada sedikit cacat yang terlihat, dengan keadaan mulus bagai
langit tanpa awan, tapi dibalik kemulusan itu kerjasama yang dilakukan adalah
kerjasama dalam hal kebatilan mereka malakukakan beberpa hal yang outputnya kan
merugikan manusia disentereo kabupaten kolus.
Mereka
melakukan nepotisme, korupsi, tanda tangan palsu, disuap dan masih banyak
kerjasama yang mereka lakukan, aku disitu sebagai saksi dengan mata telanjang
dan telingan terpampang seakan hatin aku
tertusuk, seakan saya disitu mati dalam kebodohanku, mulut ini
tidak bisa berbuat apa-apa, tangan ini hanya bisa memainkan jari ketakutan dan
ketidak sepakatan, hati ini menagis tanpa mengelurakan air, jantung ini
berdetak tanpa mengnal lelah karena seakan dikejar anjing, mata ini sebagai
monitor yang menyalurkan ketakutan yang dibawa oleh sensori menuju keotak untuk
disalurkan kepada seluruh parsial-parsial tubuhku.
Waktu
terus bergulir seakan dunia semakin hari semakin membenci mahluk yang namanya
manusia, bukan benci secara fisiknya tapi benci secara ahlaknya, karena pada
hakikatnya manusia kalau diambil kata dari bahsa arab memang manusia itu ada dua
bentuk kalimat yang pertama itu holako yang dalam kata kerjanya menjadi mahluk
yang berarti yang diciptakan oleh sang pencipta yaitu kholik, dalam hal ini
dimanifestasikan menjadi bentuk fisik manusia. Kemudian dari kata yang kedua
yaitu khulukun yang bentuk kata kerjanya menjadi ahlak atau dimanifestasikan
menjadi budi pekerti atau moral manusia, maka dalam hal ini bumi bukan membenci
secara fisik, tapi bumi membeci manusia secara moralnya yang buruk yang sealu
berambisi dengan kepentingan-kepentingan untuk memuaskan dirinya sendiri mulai
kebejatan hawa nafsunya seperti, merusak hutan, membunuh hewan yang menjadi
keseimbangan berjalanya alam ini. itulah manusia yang serakah, bukan hanya itu
yang dilakukan manusia. Manusia juga melakuakan kecurangan-kecurangan dengan
manusia sendir,i mulai dari berlaku riba, membohongi saudara sendiri sampai
pada tingkatan tinggi yaitu yang biasa disebut KKN (korupsi kolusi dan
nepotisme). Itu semua adalah keadaan yang setaip hari aku saksikan dalm monitor
orsinil kantorku.
Bulan
saakan ikut protes dengan keserakahan manusia, terlihat dimalam hari yang nan
indah bulan seakan membisiku untuk memberanikan diri untuk melaporkan kejadian
yang terjadi didunia nafkahku, pikiranku selalu berperang antara ya dan tidak,
karena memang pada hakikatnya manusia adalah mahluk yang diciptakan terakhir,
sehingga dalam diri manusia terutama pada hati manusia yang menjadi sutradara
diri manusia, terkumpul esensi dari malaikat,
jin, setan, iblis, sehinga keadaan itu membuat batin dan pikiranku selalu berperang.
Antara aku harus menjadi oposisi atau
aku akan tetap menjadi budak para pecundang bangsa, tapi semua itu tak mampu
aku memutuskanya karena semua itu ada konsekuensi yang aku jalani nantinya.
Matahari
pagi mulai muncul kembali dengan wajah yang lebih cerah, membuat tanaman mersa
senang karena kebutuhan pokok mereka terpenuhi, tidak hanya tubuhan yang mersa
senang hewan-hewanpun merasa senang dengan kehadiran sang raja surya yang
memberikan vitamin K pada tulangnya, manusia sebagai mahluk yang tak punya hati nurani juga
ikut merasa senang dengan kedantangan sang
raja surya penyuplai cahaya untuk seluruh mahluk yang tinggal di galaksi. Seperti
biasaanya aku berangkat kekantor menggunakan sepada motor bututku yaitu Astrea
tahun 45, dengan kondisi ketika berlari bareng dengan kerbau mungkin kecepatanya
sama, dengan rasa senang aku berangkat kekantor dengan dianter oleh ibundaku
tercinta sampai batas pintu rumahku, dengan diakhiri salaman dan cium tangan, juga diiringan doa sang bunda yang berbunyi. ”hati-hati
di jalan nak dan jadilah manusia yang jujur dalam keadaan dan tempat manapun,
ingat nak Allah SWT tidak tidur dia punya dua mahluk pencatat pencatat yaitu
malaikat rokib dan malaikat atid yang
akan mencatat amal buruk dan baikmu”
mendengar pesan sang ibu membuat hatiku seakan luluh lantah tak mempunayi daya
apapun membuat tulang-tulang ini seakan tak ada kekutan kalsium dan besi yang terkadung didalamnynya. Denga terbatah-batah
aku mengucapkan kata-kata balik pada ibuku ” “iya bu saya juga minta donya
ibu”. Dengan hati yang gemuruh mendengar ucapan ibu tercinta, aku seakan tidak
memerdulikan akan semua yang berada disampingku entah motor, sepeda seadainya
didesaku ada kontenerpun suara kontener, tidak aku dengan suaranya dan tidak aku
lihata wujudnya, tanapa terasa sampailah juga di kantor tercinta yang penuh
dengan kemunafikan didalamya. Dengan hati-hati aku turun dari motorku, kemudian
setandar motor aku turunkan supaya motor terbaiku tidak robah, helem terbaiku
juga kucopot, semuanya peralatan penunjang bekendara aku lepas semua, sedikit
demi sedikit aku langkahkan kakiku
menuju kantorku, sepintas aku melihat seakan ada setan dan jin yang baru keluar
dari kantorku dengan membawa darah dan
daging para rakyat jelata yang tidak tau apa-apa. “tapi itu kayaknya hanya
halusinasi saja” itu ujar hatiku’ perjalanan
aku lanjutkan dengan melakukan jalan yang penuh dengan wibawa, seakan
saya sebagai perwakilan yang rakyat yang sesungguhnya padahal saya hanya menjadi budak para
pemegang kekuasan yang katanya menjadi bapak dari raktyat tapi kenyatanya
mereka adalah ayah yang makan daging anaknya sendiri, mereka lebih kejam dari
pada haraimau, harimau tidak akan pernah makan anaknya sendiri, tapi manusia
makan darah dan daging anaknya sendiri, itu manusia bejat yang tidak punya perasaan.
Sesamapainya aku di kantor, tanpa basa basi aku duduk ditempat duduk yang telah
disediakan oleh rakyak untuk mahluk sebodoh aku. Taklama aku duduk, aku di
panggil untuk menghadap atasan.
Sob........sob.......sob,
itulah panggilan akrabku ketika di panggilolah atasanku, tanpa menunggu beduk masjid, aku
langsung mendekat tanapa ada rasa sungakan sedikitpun, dengan gaya pelari
tingakat internasional, aku mendekati atasanku, dengan memasang wajah ketidak
tahuan dan berpras ahlak sok taat kepada
atasan. Ada apa pak memanggil saya....? Sini duduk dulu sob, diruang
yang penuh dengan AC yang menjadi manifestasi teriakan rakyat, dengan melihat TV
yang menjadi manefestasi gambar-gambar orang miskin dipinggir jalan dengan melihat
tumpikan file yang sok penting sebagai menifestasi kesalahan-keshalaan yang
menumpuk pada pejabat-pejabat yang suka manipulasi.
Udara
dalam ruangan tersa panas bagai panasnya matahari didunia Arabsaudi, membuat
tubuh ini bercucuran keringat hingga baju kemeja yang aku pakai basah bagai
tersiram air, semua itu adalah simbol
yang aku alami diruangan atasanku, disaat itu aku ditawari uang dengan tumpukan
jumlah jari, tapi uang itu bukan sebagai sodakoh ataupun sebagai hibah dari
atasan kepadaku karena kinerjaku yang sangat memuaskan atasan, ataupun uang itu
adalah tunjangan gaji dari pemerintah untukku yang sudah lama aku mengabdi pada.
negara tapi uang itu adalah sebagai tahu
sumpel untuk menutupi mulutku, dengan harapan aku tidak membeberkan kecurangan
yang dilakukan oleh mereka, rasanya aku sedang berada pada jurang dengan angin
besar dan tali yang untuk pegangan tinggal satu utas, kalau tali itu lepas maka
aku akan terjatuh pada jurang tersebut, begitupun aku saat ini kalau aku tidak
bisa menjaga imanku maka aku akan terperosok pada jurang kehinaan dengan menerima
uang tersebut, dengan wajag bingung dan tak tau apa yang akan diucapakan, aku
angkat kepalaku aku putar mataku kekanan
kekiri seakan aku serbagai detektif konan yang sedang mencari masalah kemudian
diselesaikan, hari itu mungkin esensinya sama saya sedang melakukan pencarian
apa yang akan saya lakukan disaat yang sangat menegangkan ini, lama aku diam
tak bersuara tapi dengan badan yang bergoyang-goyang, sampai-samapi atasanku memenggilku
dengan nada yang agak keras. “sob................Sob......., bagaimana....?
rasanya pertannyan itu hanya sebagai suara semut yang tidak akan pernah
terdengar oleh mahluk manapun kecuali oleh semut itu dan nabi sulaiman AS,
suasana ruangan seakan menjadi jembatan wot siritol mustaqim, aku bingung
dengan seribu kebingungan, dalam hati aku berdo’a kepada Allah SWT Ya Allah berikan hamba kekuatan
untuk menghadapi cobaan ini, Ya Allah Yang maha pemberi kekuatan Kuatnkanlah
imanku dan jagalah aku dari fitnah dunia yang fana ini, dengan renungan itu
pesan dari ibundaku juga tiba-tiba lewat dan mengingatkanku akal mana hal yang
baik dan man hal yang buruk, dan menunujukanpada jalan yang lurus yaitu jalan
meuju pada segala sesuatu yang diridhoi oleh Allah SWT, “hati-hati di jalan nak
dan jadilah manusia yang jujur dalam keadaan dan tempat manapun, ingat nak Allah
SWT tidak tidur dia punya dua mahluk pencatat pencatat yaitu malaikat rokib dan malaikat atid yang akan mencatat
amal buruk dan baikmu”. Dengan itulah
kebingungan yang ada dalam batinku sedikit demi sedikit hilang.
Sob
....itulah kata pertama yang aku dengar lagi dari atasanku, ya ada apa
pak.....? kamu itu dari tadi ditanya bapak, Aduh Ma’af pak saya sedang banyak
pikiran jadi kurang fokus dengan pertanyaan bapak” itulah alibi yang aku
keluarkan supaya saya bisa mencari jawaban lain untuk menolak uang dengan
jumlah sesuai tumpuk jariku, gini sob bapak ada proyek pembangunan jalan didesa,
dan kamu adalah satu-satunya orang yang tau akan semua hal yang dilakukan
bapak, jadi bapak minta kepada kamu untuk tutup mulut akan hal yang akan
dilakukan bapak gitu sob maksundnya, pak aku bertanya sok polos dan sok tidak
tau, suasana sudah agak mendingan membuat pikiranku bekerja dengan sedikit
kejernihan.
Rasa
takut memang sudah agak hilang dari jiwaku tapi apakah akau akan kuat denag
semau cobaan ini yang sekarang sudah ada didepan mataku, apakah tidak adfa
setan dyang sekatrang akan menariku kedalam lubang kesesatan kalu lubang itu
sekarng sudah didepan mataku, tapi dengan rasa keberanian aku berniat dalam
hati dan aku susun setrategi yang cukup baik dan lihai untuk menolak semua
tawaran dari atyasanku walaupun itu hanya sebatas data tanpa aku diberi uang
panas yang akan membakarku didunia dan di akherat nanti.
Dengan
kterpaksaan aku ucapkan pada atasanku “dengan segala hormat dan ta’dimku pada
panjenengan saya minta maaf yang sebesar-besarnya, saya tidak bisa bantu bapak
dalam hal ini, mungin kalau ada hal lain yang ingin bapak inginkan dari saya
selain hal yang sedemikan itu serupanya saya mungkin bisa bantu pak”. Suasana menjadi
hening antar aku dan atasnku menjadi dua sejoli yang seakan tidak pernah kenal
tidak mau kenalan, semua barang-barang tak bernyawa dalam ruangan itu seakaan
menjadi saksi bisu atas keberanian aku dalam melakukan tindakan penolakan
terhadap penghianatan terhadap rakyat jelat, yang ditipu denga kedok negara
bersistem demokrasi, tapi nyatanya hanya sebagai label semata sedangkan
prakteknya menjadi negara denga sistem kepentingan kau elit semata.
Denag
rasa hormat dan ta’dimku pada atasanku aku dengan rasa sedikit kikuk, aku pamit
untuk klembali ke meja kerja saya, pak saya pamit dulu pak, saya mau
menyelesaikan tugasku pak”. Suasan hening itu tak membuat suaraku terdengar
oleh atasanku, hinga aku mengulangi perkataanku tiga kali, setelah tiga kali
atasanku mengatakan, sob tolonglah bapak, pak maaf dalam hal ini saya tiodak
bisa membantu bapak, pak ingatlah firman Allah SWT. ”jangan tolong menolong
dalm hal keburukan tapi tolong menolonglah dalam hal kebaikan”. Akhir kata
itulah yang mengakhiri ekpedisiku dalam melawan hawa nafsuku dengan stimulus
dari atasnku untuk disuap uang rakyat.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar