Minggu, 05 November 2017

SEMUA BERAWAL DARI ANGAN

SEMUA BERAWAL DARI ANGAN
Fatkhuri eL Sobri 

Semilir angin yang berhembus membuat suasana disekelilingku menjadi sejuk, terik Matahari yang terus berpancar menyalurkan energinya kedalam tubuh lemahku, gemrecik Air yang terus mengalir seakan-akan menjadi ruang bagiku untuk bertafakur. Pada saat itu Aku berada ditepi Sungai Mingklik, letak sungai Mingklik kurang lebih 2 km dari Rumahku, apalagi Sungai Mingklik terkenal dengan suasananya yang mendukung untuk dijadikan tempat  refresing, jadinya tempat itu bisa membuat pikiran yang abnormal(setres) menjadi normal. Karena keadaan setrategis sungai itu menjadikan setiap orang tertarik untuk mengunjunginya termasuk Aku. Maka dari itu kalu Aku sedang ada masalah pasti larinya kesungai Mingklik tapi itu sebagai alternative setelah Aku curhat dengan Ibu dan biasanya Aku memilih Batu untuk tempatku bersemayam disungai itu, Batu yang Aku tempati terletak persis dipinggir sungai, sehingga apabila kita duduk dibatu itu kita bisa bermainnan Air Sungai yang sangat lembut ditangan. Maklum Air kaki Gunug jadinya masih alami belum tercemari oleh produk-produk kimia, Batu itu juga sering disebut Batu Kodok karena rupanya yang mirip Kodok. Kelebihan lain dari infrasetruktur yang ada disungi Mingklik adalah bisa digunakan untuk meditasi karena suasananya yang mendukung untuk ketenagan jiwa, dengan setruktur angin yang lewat, berlalu dengan sepoi-sepoi, terik Matahari yang memancarai sungai itu tidak begitu panas karena terhalangi oleh dedaunan yang rimbun, juga didukung oleh tetumbuhan yang hijau yang bisa membuat mata sejuk seperti berada dirungan yang mewah, malah masih sejuk disini karena disini bangunanya alami.
Angin yang terus berhembus, Matahari terus yang berpancar, Air yang terus-menerus mengalir, Waktu yang terus berjalan, Dunia pun ikut-ikutan merubah wajahnya dengan cara menutup wajahnya dengan kelambu asap, semuanya berubah tapi jalan pikiranku tidak berfilsafat sama sekali atau boleh dibilang Aku hanya berdiam diri tanpa makna. Pasalnya pada saat itu Aku sedang terombang-ambing Angin kehidupan dengan keadaan tanpa ada akar yang mengikat prinsipku dan pegangan yang memerkuat gerakku, malah ditambah lagi jalan pikiranaku macet yang tiada akhir  padahal yang Aku harapkan, Aku bisa berada dalam ruang dan waktuku (jati diri) , karena saat itu Aku seadang bingung , terjepit oleh keadaan yang membuatku seperti terlempar sana sini tiada henti, dimana pada sisi yang satu Aku ingin sekali melanjutkan kebangku kuliah supaya Aku mendapat Ilmu pengetahuan dan pengalaman yang lebih dari yang lain, setelah Aku mendapatkan pengalaman yang banyak Aku berharap, Aku  bisa menjadi seorang perubah dari keadaan yang buruk menjadi baik dan bisa memberdayakan SDM dan SDA yang telah difasilitaskan Tuhan kepada kita, tapi disisi lain orang Tuaku ekonominya sangat terpuruk atau boleh dibilang dibawah garis standar, untuk makan saja kami kadang kesusahan, apalagi untuk biaya kuliah sangat berat buat kedua orang tuaku, juga disisi yang satunya lagi dukungan dari pemerintah sangat kurang apalagi Aku adalah orang Desa, jadinya bantuan yang datang pada kami tidak mencukupi atau tidak merata sehingga membuat anak-anak yang mempunyai tekad yang besar untuk berpendidikan terhalang.
Kadang Aku bertanya dalam diriku sendiri apakah hanya orang-orang Kota yang pantas sekolah???? Padahal yang namanya Ilmu itu wajib bagi semua umat tapi mengapa diskriminasi dari pemerintah terlihat sangat jelas kalau orang Desa itu tidak pantas sekolah, orang Desa itu menjadi budak saja bagi bagi tikus-tikus Bangsa, kalaupun orang Desa mendapatkan fasilitas dari pemerintah mereka harus benar-benar menguras tenaganya  sampai titik klimak.
Dunia sepertinya sudah lelah karena wajahnya sudah kelihatan tertutup slimut abadinya, juga disisi lain ternyata jarum panjang jam sudah menunjukan diangka 4 dan jarum pendek sudah diangka 5, itu menandakan kalau waktunya sudah cukup sore. Aku juga sepertinya sudah putusasa karena tidak ada satu pun solusi yang Aku dapatkan dari tafakur yang Aku lakukan diatas Batu Sungai Mingklik. Rasa bingung, kecewa sudah makin menjadi-jadi hingga membuat tubuh ini seakan-akan tidak bisa berdiri karena tertimbun rasa binggung dan kecewa yang menggunung, rasa itu sepertinya membuat Aku hilang separuh kekuatanku sehingga membuat mataku sedikit rabun,  tanpa Aku sadari ternyata tubuh ini sudah terangkat separuh  itu menandakan kalau Aku sangat lelah dengan keadaanku sampai-sampai tubuh sediri terangkat saja tidak terasa dan ketika Aku akan menyempurnakan badanku untuk bangun dari tempat semedi. Aku melihat ada seekor Burung Pentet yang sedang mengambil akar-akar tetumbuhan yang sudah kering, yang berada disekeliling  Sungai Mingklik, Burung itu mengambil akar untuk dijadikan sarang bertelur supaya keturunan mereka tidak punah, dari situlah Aku menemukan I’tibar yang berarti juga Aku menemukan solusi yang selama ini Aku cari untuk dijadikan jalan keluar dari problema-problema hidupku, Setelah Aku mendapat solusi itu, ucapkan Alhamdulillah secara sepontan keluar dari mulutku sebagai salah satu rasa syukur kepada Allah SWT, karena dari pandangan itu Aku bisa menggambil sebuah I’tibar dari apa yang telah dilakukan oleh Burung itu.
Dari burung itu yang diambil I’tibar adalah bahwa sesuatu keadaan tidak akan berubah kalau dalam diri mereka tidak merubahnya yaitu  Burung itu merubah rungnya yang asalnya hanya ranting-ranting belaka,  diubah menjadi tempat bertelur yang aman. Seperti yang  tertera dalam surat Al Ro’du ayat 11 yang berbunyi” sesungguhnya Allah tidak akan merubah sesuatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. Mulai saat itulah sepertinya Aku tersuplai energi baru yang tadinya hanya  berfrekuensi 25% bertambah  menjadi 75%. Kelihatanya hari sudah semakin gelap membuatku sedikit takut karena suasananya yang sepi tidak ada satu orang pun yang berada  disungai itu, tanpa basa basi Aku segera pulang karena pucuk jarum jam sudah hampir menunujukan waktu Maghrib, dikatakan oleh orang Jawa waktu Maghrib adalah waktu sendekala (waktu yang buruk). Juga seperti ucapan Al Habib Luthfi bin A’li bin Yahya bahwa waktu Maghrib adalah waktu pergantian antara siang dan malam jadi disitu terjadi pergantian udara dimana udara itu apabila dihirup dan masuk kedalamtubuh kita, udara itu akan menyebabkan tubuh kita tersuplai agen penyakit yang akan membuat tubuh menjadi sakit. Setelah Aku sampai didepan Rumah, Aku langsung mengetuk pintu dan mengucapkan salam , baru saja Aku melangkahkan kaki, Ibu langsung mengintrogasi diriku, “Fat dari mana kamu? kok tumben jam segini baru pulang, apalagi kamu sudah tidah sekolah, kemana sajakamu? kalau kamu pulang jam segini membut Ibu merasa khwatir” “Itu Bu tadi Aku dari Sungai Mingklik”” ngapain?”Enggak Bu, lagi ke pingin aja””owh ya sudah sana kamu mandi, jangan mandi terlalu malam, karena kata orang kesehatan kalau mandi sebelum melewati jam 12 kita akan mudah  terkena sakit tulang (pege linu)”. Tanpa basa-basi Aku langsung melakukan perintah Ibu. Dengan cara Aku langsung menuju kamar untuk mengambil perlengkapan mandi pribadi, kebetulan kamarku berada paling dekat dari tempatku berdiri saat itu, jadinya tidak usah menghabiskan waktu yang lama untuk mengambil perlengkapan mandi pribadi. Setelah Aku selesai mandi Aku langsung siap-siap untuk solat Maghrib dimasjid, setelah selesai persiapan kami sekeluarga berangkat kemasjid bersama-sama untuk melakukan solat berjamaah dimasjid Baitul Karim yang terletak kurang lebih 20 m dari Rumahku, kecuali Ibu yang tidak ikut sholat berjama’ah bersma, pasalnya pada saat itu Ibu sedang ada halangan, selesai sholat kami sekeluarga pulang kerumah untuk melakukan adat keluarga kami, yang telah dirintis oleh Ayah untuk menciptakan generasi yang selalu menjalankan kebaikan (printah Allah SWT).
kami sekeluarga biasanya membaca Al-Qur’an bersama-sama diruangan yang kami buat khusus untuk berekumpul keluarga, tempatnya persis disebelah ruang tamu, kalu dari pintu utama rumahku kira-kira berjarak kurang lebih 5 m. Rumah yang kami miliki adalah rumah sedrhana jadi jarak antara muka rumah dengan belakang  Rumah tidak begitu  jauh. Biasanya surat Al-Qur’an yang kami baca sekeluarga adalah surat Yasiin, Al-fatah, Waqiah, Al-rohman, Al mulk. Waktu yang Kami  pakai untuk aktifitas itu sekitar 45 menit, soalnya Ayah kalau membaca Al-Qur’an sangat teliti pengunaan tajwidnya, jadinya kami semua harus mengikutinya, selesai kami membaca Al-Qur’an. Tanpa jeda waktu lama suara adzan Isa berkumandang, jadinya kami hanya beristirahat sebentar, soalnya biasannya jama’ah sholat Isa lebih dini dibanding waktu solat yang lainnya. Jadi tanpa mengukuir waktu terlalu lama kami langsung menegakkan perintah Allah SWT, pasalnya  apabila ditunda sebentar saja kami merasa malas untuk melakukan sholat Isa berjama’ah dimasjid Baitul Karim apalagi kalau sudah termakan rayuan Televisi susah sekali terpisah darinya untuk bangun mendirikan sholat Isa.
Semua akatifitas telah Aku lakukan, biasanya  setelah sholat Isa Aku dan Adikku belajar tentang ilmu Agama bersama Ayah supaya kita tidak ketinggalan pengetahuan tentang agamanya. karena kata Albert Enstens kalau orang punya ilmu umum tanpa agama berarti buta dan kalu orang hanya mementingkan agama berarti lumpuh”. Jadi Aku mempunyai prinsip agar Aku mendapatkan Ilmu, baik dalam bidang lmu pengetahuan umum maupun dalam bidang Ilmu Agama. Malah yang lebih Aku utamakan adalah pengetahuan Agama karena pengetahuan Agama adalah penunjang kecerdasan moral, kalu ilmu umum lebih dominan kecerdasan intelektualnya, jadinya kita harus mengkolaborasiakan keduanya dengan harmonis supaya hidup kita bisa bermakna bagi diri sendiri keluarga, Bangasa dan Negara. Dan juga  boleh dibilang walaupun secerdas apapun Intelaktualnya  seseorang tapi tidak punya moral maka orang itu tidak akan bermanfaat bagi orang lain. Setelah kami belajar tentang Ilmu Agama, kami langsung belajar pelajaran sekolah yang akan dipelajari besok hari supaya pelajaran yang Aku peroleh sedikit dami sedikit masuk kedalam otakku dan tersimpan didalamnya, soalnya kalau kita belajarnya hanya ketika akan ada ulangan atau yang sering disebut SKS (sistim kebut semalam) itu sulit bagi kita untuk menyimpan pelajaran yang kita pelajari kedalam memori kita. Diibaratkan saja ketika kamu menaruhkan Air pada bata merah, kalau kita menaruhnya sedikit demi sedikit semua Air akan masuk kedalamnya, tapi sebaliknya kalau kita langsung mengguyrunya satu ember dalam waktu satukali guyuran, Air itu tidak akan masuk semunanya kedalam bata merah tersebut malah Air itu akan tumpah/melebar ketempat lain. Maka dari itu Ayah melatih Aku untuk disiplin belajar walau hanya satu lebar buku satu malam.
Tapi malam itu semua aktifitas yang biasa Aku lakukan sepertinya, Aku tidak bisa menjalaninya, soalnya pada malam itu hatiku sedang tidak karuan, kalaupun Aku belajar sepertinya, Aku kurang  konsen dengan belajarnya, akhirnya Aku putuskan untuk absen dulu malam itu, suasana salju didesaku sudah semakin menjadi jadi hingga membuat tubuh ini mersa berada didalam genangan es, apalagi didaerahku kalau hari sudah semakin malam suasana dingin sangat terasa, malah-malah boleh dibilang dinginya sampai menusuk tulang tulang dalam tubuh, maklum saja daerahku adalah daerah kaki Gunug, lebih tepatnya kami sekeluarga tinggal dikaki Gunug Selamet, yang biasa disebut sebagai pusat tanah Jawa. Berotasinnya dunia berjalannya, waktu beralihnya sang Raja Galaksi membuat hari menjadi berubah pula, ketika sang tatasurya hilang dari permukaan dunia mulai munculah pendamping setia Bumi yang memancarkan cahaya kedamaian, yang biasa digunakan sebagai lambang keindahan. Seperti biasanya kalau jarum tajam jam sudah menunjukan waktu sepertiga malam maka tanpa dibangunkan, Aku bisa bangun sendiri tanpa harus di bangunkan orang lain, walaupun Aku tidur diatas jam 12 Aku bisa bangun sebelum subuh, semua itu adalah anugrah Allah SWT yang kita semua harus mensukurinya, tapi untuk mendapatkan semua itu harus ada kemauan dan harapan yang besar dari kita supaya kita mendapatkan kebaikan dari Allah SWT, Saat Aku bangun, Aku gunakan waktu itu dengan sebaik mungkin terutama untuk melakukan sholat malam, sebab orang yang malamnya hanya dihabiskan ditenpat-tempat tidur empuk  dengan ruang yang sejuk, malamnya hanya akan mendapatkan ni’matnya tidur,  mereka tidak akan mendapatkan ni’matnya berkencan dengan sang Pencipta Alam Semesta, itu semua seharusnya membuat kita bertanya pada diri kita apakah kita termasuk dalam komuniti orang-orang yang mau berpikir atau kah kita termasuk komuniti orang -orang yang menyalah gunakan waktu tanpa memikirkan akibat yang akan datang pada kita dan seharusnya membuat kita bertanya dengan perbuatan yang kita buat, ketika kita bergadang diwaktu malam, dengan pertanyaan-pertanyaan, mengapa malam-malamnku hanya  dilalaui untuk menghambur-hamburkan uang, juga waktu malam-malamku hanya digunakan untuk  memeriahkan peseta-pesta? Terus mengapa malam-malam yang indah hanya Aku habiskan untuk melahap sinetron, didepan computer, didepan internet, ditenpat-tenpat hiburan semu, dijalan dengan obrolan-obrolan yang tidak berguna, apalagi kalau diiringi dengan tawa lepas dan kegembiraan yang beracun? Maka dari pertannya itulah, kita bisa menggugah hati dan mata kita menuju yang lebih baik dan seharusnya semua itu bisa membuat kita bertafakur kepada Allah SWT.
Apakah perbuatan yang selama ini Aku perbuat sudah mendatangkan manfaat bagi dirinku maupun orang-orang yang berada disekelilingnku. Sungguh itu adalah penyesalan yang mengeringkan segala keni’matan semu Dunia, sehingga seolah-oalah mereka tidak pernah merasakan bahagia sedikitpun walau seujung tajam jarum. Maka dari itu Aku sedikit demi sedikit berlatih memeneg diriku sendiri untuk menggunakan waktu yang telah difasilitaskan  oleh Allah SWT, untuk kita berkiprah didunia. Aku juga berlatih menggunakan waktu seefektif, sefisiendandan seproduktif mungkin, supaya nanti akhirnya Aku tidak menyesal dengan perbuatan masa laluku yang penuh dengan kenistaan, Karena penyesalan hanya akan membuat hati kita teriris-iris, penyesalan juga hanya akan membuat kita berimajinasi yang tidak-tidak, malah-malah yang ditakutkan  lagi nanti kita akan berbuat sesuatu yang diluar kendali otak.
Indahnya Dunia, Aku rasakan setelah Aku buka kedua mataku, ketika Aku lihat indahnya Dunia, Aku langsung bangun dari ranjang tidurku, agar Aku bisa berkiprah diwaktu yang begitu indah ini, soalnya kalau kita tidak langsung berdiri, Setan akan membisiki kita supaya kita tidak usah bangun, karena rayuan Setan begitu manjur. Ktika Aku berdiri, Aku lansung berjalan walapun  saat itu Aku setengah ngantuk dan Aku memberanikan  menuju Sumur  untuk mandi agar rasa kantukku bisa sirna dari dalam tubuhku, mandi disumur adalah kebiasaanku karena biasanya Aku kalau bangun jam 3 malam Aku mandinya secara langsung dari air sumur diblakang Rumaku tanpa melalui selang sanyo tapi langsung dengan timba sumur yang manual.
Aku dapat pengalaman ini dari seorang ulama yang telah mashur yaitu Bapak K H Zainal ‘Arifin, beliau mengatakan kalau orang yang melanggengkann (membiasakan) mandi sepertiga malam, dengan syarat mandinya langsung dari air sumur/air sumber yang tidak menggunakan perantara yang banyak, InsaAallah dengan izinnya oarng itu akan awet muda, pikirannya fresh, kapasitas volume otak juga akan meningkat. Makanya Aku ingin selalau melakukan saran itu sebagai sarana  usahaku memperbaiki diri dengan usaha meminta kebaikan kepada Allah SWT. Selaesai mandi Aku langsung ganti baju dan siap-siap menghadap Tuhan Alam semesta, untuk memohon ampunan dan kebaikan-kebaikan didunia maupun diakherat, karena hanya Allah SWT yang akan memberi segala permintaan hamba-hambanya.
Setelah selesai berdo’a Aku jadwalkan detik itu untuk bertafakur kepada Allah SWT dan merenungi perbuatan apa yang telah kita lakukan selama satu hari merenungi ni’mat-ni’mat yang telah difasilitaskan Allah SWT kepadaku.Juga Aku renungi apakah solusi yang Aku dapatkan saat besemedi disungai Mingklik akan baik untuk kehidupanku, karena sesuatu yang baik menurut manusia belum tentu baik menurut Allah SWT.
Karena menurut orang-orang Alim waktu yang baik untuk bertafakur adalah ditengah malam, saat itulah saat kosong bebas dari aktifitas, nantinya akan membawa dampak positif pada hati kita, untuk melakukan tafakur Aku memulai dari merenugkan diri dan bertanya siapa Aku ini? Dari mana berasal dan akan kemana setelah tubuh telah kaku tidak berdaya sama sekali? Dan Aku juga menggunakan sisi sosial untuk membangun jiwaku menjadi insan yang baik dengan cara Aku membayangkan saudara-saudaraku yang mempunyai tekad, keberanian, dan semangat yang begitu besar untuk menjalani proses pendidikan walau mereka harus mengorbankan waktu mereka untuk kuliah sambil bekerja demi mengejar cita-cita atau dalam istilahnya mereka berani melawan arus yang begitu deras untuk mengambil sesuatu dibalik Air itu, maka dari itu Aku bertekad untuk menjadi manusia yang selalu semangat dan positif tingking supaya Aku tidak mudah minder kalau ada fenomena yang sedikit mengiris kita, malam itu pula Aku ciptakan prinsip yang kuat dengan bentuk prinsip “Aku akan melawan arus kehidupn dengan usaha yang keras tidak pantang menyerah juga melihat kemampuan yang Aku miliki”.
Jawaban-jawaban dari pertannyaan-pertanyaan yang ada dalam benakku satu-persatu menghampiriku, kemudian terbuka dalam dokumen memoriku. Alhamdulilah dengan izin Allah SWT malam itu Aku menemukan solusi untuk mensongsong masa depan yang cerah  ya walaupun belum tentu itu adalah sesuatu yang baik untuk selama hidupku, tapi Aku yakin ini adalah hidayah dari Allah untukku menyusuri jalan hidup ini. Isi dari hidayah yang telah Aku dapatkan intinya yaitu Aku akan tetap melanjutkan keperguruan Tinggi dengan cara membiayai kuliah sendiri, dengan upaya sekuat tenagaku, Aku akan berdagang asongan atau Aku kuliah sambil bekerja yang pekerjaan itu tidak menggang kuliahku, dan untuk masalah penginapan, Aku memutuskan untuk menjadi ta’mir Masjid, ya walaupun Ilmu Agama yang Aku miliki sangat sedikit tapi semoga Ilmu itu bisa bermanfa’at bagiku, juga orang-orang disekeliling Masjid yang akan Aku tempati nanti.
Tanpa Aku sadari ternyata  suara kokok Ayam-Ayam yang menjadi penanda bahwa waktu sudah pagi, mulai terdengar ditelingaku, tidak lama dari itu suara kumandang Adzan mulai terdengar juga, suara Adzan itu mengguagah Aku dari asiknya berkencan dengan Tuhan Alam Semesta.
Karena Rumahku tidak begitu jauh dari Masjid, maka setelah mendengar Adzan Aku langsung menuju Masjid untuk mengumandangkan Adzan Subuh walaupun suara Aku tidak sebagus Ust Mu’amar ZA tapi Aku dengan percaya diri mengumandangkan Adzan diMasjid Baitul Karim.Seperti kebiasaan didesaku kalau sudah selesai mengumandangkan Adzan, maka setelahnya disambung dengan melantunkan solawat Nabi, disamping sebagai tanda cinta pada Nabi juga digunakan sebagai sarana untuk menunggu para jama’ah yang masih berada dijalan, sehingga mereka bisa mengikuti jama’ah secara sempurna.
Setelah sholat Subuh terlewti tanpa terasa sang Raja Galaksi sudah menampakan wajahnya yang penuh dengan sinar kesemangatan, sinara-sinarnya yang masuk kedalam Rumahku lewat lubang-lubang ventilasi, itu menjadi warna tersendiri bagi diriku yang sedang menyusun rencana untuk pergi kedunia pendidikan, cahaya yang lewat ventilasi itu terdeskripsi bagaikan sebuah akar yang mengikat prinsip hidupku, juga mengandung sebuah makna kalau kita harus selalu berusaha walaupun pada awalanya kita hanya mempunyai sedikit modal untuk menuju masa depan yang lebih maju. Prinsip yang Aku pegang adalah bahwa Aku harus mencari Ilmu, walaupun Aku harus menguras seluruh keringatku untuk menebus mahalnya ilmu, sebab orang yang mencari Ilmu akan dido’akan oleh seluruh mahluk yang ada didunia ini dan orang yang mempunyai Ilmu akan diangkat derajatnya oleh Allah SWT.
Sinar Matahari pagi mulai terasa panas oleh indra perabaku, orang-orang Desa sudah banyak yang terlihat berjalan menuju ladang untuk mencari nafkah dohir untuk dirinya dan keluarganya, setelah mereka mendapatkan itu semua  mereka gunakan harta mereka untuk menjadi bekal beribadah kepada Allah SWT. Tapi Aku sebagai anak muda malah kalah jauh dengan mereka sebab Aku masih santai-santai sambil bersandingan dengan cemilan-cemilan yang menemani pagiku, saat itu Aku berada disofa ruang tamu yang bertempat diruang tengah Rumahku.
Hari ini adalah hari baru bagi Aku dimana, Aku pada hari ini akan mencoba mengaktifkan tinta Mas yang telah Aku beli tadi malam atau hari ini hari pertama bagai Aku untuk menjadi pejuang bagi diriku sendiri, itu semua sebagai implementasiku dari perenungan yang telah Aku lakukan tadi malam, dengan tujuan mencari jalan keluar  dari masalah yang telah mengikat perasaaan gelisahku atau lebih tepatnya Aku mencari jalan keluar untuk melewati masa bingungku yaitu mencari kendaraan untuk menuju cita-citaku untuk bisa melanjutkan kuliah pada tahun ini.
Karena pada era ini untuk mrelanjutkan kebangku kuliah membutuhkan power yang handal dan tahan banting, baik itu power konkrit maupun itu power abstrak. Apakalagi di era sekarang ini perbedaan yang sangat mencolok antara  kampus yang bersetataus Negri dengan kampus yang bersetatus swasta. Dengan makna kalau kampus yang bersetatus Negri sudah pasti mendapat perhatian yang lebih dari Pemerintah baik dari segi fisik maupun dari segi non fisik, sebaliknya kalau kampus Swasta dibiarkan berkembang sendiri tanpa adanya perhatian yang sama dengan kampus Negri. Seharusnya pemerintah proporsional dalam membagikan fasilatas kepada seluruh instansi pendidikan, tanpa memandang kampus itu bersetatus Negri ataupun kampus itu bersetatus Swasta, karena yang menjadi tunas Bangsa bukan hanya orang yang berkuliah dinegri saja tapi orang yang berkuliah di kampus Swasta pun bagian dari Again of the cenger Negara kesatuan Republik Indonesia. Itu semua akan membuat orang-orang yang berkuliah dikampus Swasta meris dengan apa-apa yng telah pemerintah fasilitaskan kepada kampus Negri, itu semua akan menjadikan salah satu penunjang keruntuhan Negara ini, karena kurang adilnya pemerintah dalam mengayomi anak-anak Bangsa.
kehancuran Negara juga akan tercipta dari sisi kecurangan-kecurangan yang dilakukan Mahasiswa kepada orangtuanya, yang mereka diberi amanat untuk mencari Ilmu, malah mereka gunakan hanya untuk mencari pacar, dari Rumah mereka berangkat, yang seharusnya untuk bertemu GFuru untuk mendapatkan ilmu yang akan membawa kepada hal positif tapi malah mereka berangkat dari Rumah untuk bertemu kekasihnya sehingga yang mereka dapatkan adalah anak diluar nikah, yang akan membuat mereka menderita didunia karena malu dan akan mendapatkan penderitaan diakherat karena melanggar perintah Allah SWT.
Juga kecurangan Siswa yang menipu Gurunya saat tes berlangsung, maupun kecurangan yang dilakukan oleh para oknum-oknum yang membocorkan kunci jawaban Ujian Nasional, itu semua seharusnya menjadikan diri kita kritis dalam menanggapai itu semua dengan cara kita menjadi seorang pejuang bagi Bangsa, juga menimbulkan pertannyaan bagi diri kita, gimana tunas-tunas Bangsa ini akan jadi orang yang jujur, dari kecil saja mereka sudah diajari untuk berkorupsi. Padahal Anak-Anak didik adalah sebagai pemimpin masa depan yang memimpin Negara ini menuju Negara yang lebih baik, tapi malah mereka menjadi kuman-kuman Bangsa yang menggrogoti tiang-tiang yang dibangun oleh para pendiri Bangsa kita. Dari kecurangan-kecurangan yang terdaftar diatas adalah kenyaatan yang terjadi disekeliling kita.
Maka dari itu Aku berusaha untuk masuk menuju dunia kampus dengan melewati pintu yang benar supaya nanti apa yanag akan Aku cari produknya bias bermanfa’at bagi diriku maupun kedua orangtuaku, keluargaku maupun bangsa dan negaraku. Setelah Aku tau akibat apa yang akaan Aku rasakan ketika Aku kuliah dengan biayaku sendiri, Aku dengan penuh percaya diri dan penuh semangat menghadap Ayah dan Ibu untuk meminta izin kalau Aku akan berkukliah diluar Kota yang berarti Aku mennggalkan mereka.
Gemuruh Angin pagi terus berkibar tanpa henti sedikitpun, enakanya bau makan tetangga pun tidak henti-hentinya menyanbar hidungku hingga membuat lambungku merasa keroncongan. Begitupun semangatku untuk bisa menjadi orang yang bermakna tidak ada putus-putusnya walapun hujan badai telah mmenghadang, tapi semangatku tetap beselancar dengan kuatnya. Setelah semuannya siap Aku langsung menghadap Ibu dan Ayah yang pada saat itu mereka berada dibelakang Rumah, mereka sedang ngobrol-ngobrol, entah ngobrol tentang apa mereka. ”asalmualaikum, Bu, Yah”  “Walaikusalam Fat” ”ada apa?””Bu Aku mau minta izin, Aku mau mendaftar kuliah dipekalongan” “Apa………. Fat? Kamu mau daftar kuliah, uang dari mana untuk perjalan kamu nati kalau sudah kuliah” seketika itu Aku hanya bisa berdiam seribu kata karena menurut daya tangkapku sepertinya Ibu marah denganku, tapi dengan tegas Aku menjawab pertannyaan Ibu ”Bu, Ibu jangan berpikir negative dulu kan yang mau member rizqi adalah Allah SWT, mengapa Ibu sepertinya mendahului takdir, yang paling penting adalah Ibu berusaha dan berdo’a kepada Allah insaAllah rizqi akan kita dapatkan Bu, nanti juga Aku akan kuliah sambil bekerja supaya Aku bisa membiayai kuliah sendiri dan itu tidak akan memberatkan Ibu dan Ayah. Seketika itu juga Ibu dan Ayah meneteskan air matanya sebagai tanda rasa kasihan sekaligus mereka mersa bangga denganku karena Aku begitu bersemangat untuk mencari ilmu walaupun badai sudah siap untuk menerkam didepanya. Mereka juga berkata kalau Aku belum pantas banting tulang, soalnya Aku masih terlalu dini untuk memeras kringat untuk mencari uang, Aku juga ikut-ikutan menangis karena Aku bangga, Aku punya orang tua yang mendukung cita-citaku.
Berangkat dari semangat yang menggebu-gebu dari dalam diriku dan didukung oleh motivasi-motovasi dari kedua orang tuaku Aku berani berjalan menuju apa yang telah Aku susun selama ini yaitu Aku menyusuri jalan menuntut ilmu, walapun angin-agnin tetangga membuat telingaku seakan-akan mau pecah, tapi semangat dalam diriku selalu berkobar.  Aku berkata dalam dirikum bahwa Aku adalah Aku yang akan menjadi Hero, walaupun hari ini Aku masih Zero, Aku juga ingin menjadi seorang revolusioner.
Setelah semunya dipersiapkan Aku memberanikan diri berangkat kepekalongan sendiri dengan uang saku yang ngepres tapi Alhamdulilah dengan niat yang tulus dan bagus Aku bisa ditermia diunfersitas yang ada  dipekalongan, itu menandakan  apa yang telah Aku cita-citakan tercapai dan aku akan bermakna dikacamata Masyarakat.

KESUNYIAN DIBALIK KEBAIKAN




KESUNYIAN DIBALIK KEBAIKAN
Fatkhuri eL Sobri

Waktu terus berjalan mengakibatkan semua yang ada didunia melakukan  metamorfosa, kecil menjadi besar, bodoh menjadi pintar,  tanpa ternafikan keburukan pun mengiringi perubahan-perubahan itu, fenomena itu satu persatu tak pernah nihil akujumpai,  hingga membuat hidupku seakan bosan dengan atmosfer yang tak menentu ini, matahari yang begitu besar manfaatnya juga seakan tak mempengaruhi pemikiran burukku terhadap kehidupan dunia ini, yang semakin lama membuatku tak betah didunia. ingin rasanya aku berpindah pelanet, tapi semua yang ada dalam pemikiranku samapai hari ini rasanya tak mungkin aku lakukan karena semunya membutuhkan biaya yang tidak semudah membeli jajan pasar.
Matahari pagi mengajakku berkeliling desa untuk melihat indahnya dunia tanpa campur tangan manusia serakah yang tidak pernah memikirkan akan akibat dari perbuatan yang dilakukanya, baik itu untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain, tapi rasanya badan ini belum siap untuk kuajak berinteraksi dengan semua mahluk hidup yang sudah dari pagi memanggilku untuk berolahraga pagi bersamanya. Bumi tak henti-hentinya berputar pada porosnya hingga membuat matahari terlihat semakin tinggi dan semakin membuat duniaku terasa makin panas membuat aku tak betah berada di kamar kecilku. Berdiri aku untuk pergi kekamar mandi untuk membersihkan badan dan mengguyur badan supaya kelihatan segar dan meghilangkan rasa sungkan yang sedang membaluti tubuhku. Tapi antara setan dan malaikat yang berada disampingku terus membisiku dengan kapasitas mereka, membuat aku merasa bingung dengan keadaanku sekarang, tapi karena suasana dikamarku mendukungku untuk berdiri, sinar matahari seakan menarik aku untuk kekamar mandi membersihkan badan. Maka terpaksa dengan rasa sungkan, aku pergi kekamar mandi. Mandi pagi dengan hawa menyerupai kutub utara sudah aku lewati kini tinggal menghias badan untuk menunjukan nilai estetika kepada dunia luar. Selesailah sudah persiapan untuk menyonsong hidup hari ini.
Keadaan memaksaku untuk berinteraksi dengan dunia luar badanku, hingga membuat aku melakukan hal yang sesuai dengan lingkungan yang aku tempati, aku adalah seorang pegawai pemerintahan di salah satu kota diindonesia tepatnya aku tinggal di desa  korup kecamatan nepotis dan kabupaten kolus, kebetulan aku disana menjadi sekertaris di intansi tersebut. Hari demi hari rasanya aku sudah muak dengan kondisi yang aku alami, dinamika kantorku seakan menjadi api yang selalu berkobar,  sedikit saja aku bergerak tanpa iman maka aku akan terbakar oleh kobaran api itu, rasanya aku ingin mematikan api itu, tapi aku tak punya daya karena saya hanya seorang bawahan yang mepunyai kapasitas sebagai pelayan dari raja dikantorku,  Raja bilang A maka saya harus melakukan A, Raja bilang B maka saya harus melakukan B. Itulah kondisi yang aku alami saat ini. Tapi disela-sela kobaran api itu, aku selalu mengabil i’tibar yang nantinya bisa menjadi senjata paling ampuh, akan saya tancapkan pada saat yang pas, disamping itu, aku juga selalu berdo’a pada yang mahakuasa, untuk selalu dilindungi dari segala yang akan memasukkan aku kelubang kesesatan.
Angin dan debu selalu bekerjasama menampakan dirinya untuk eksistensinya dihadapan para mahluk ciptaan tuhan lainya, agin tanpa debu hanya akan terasa, debu tanpa angin hanya betuk yang tak bisa bergerak. Itulah sejatinya kehidupan manusia, manusia adalah mahluk sosial yang tidak akan pernah bisa hidup sendiri, tapi kerjasama-kerjasama yang dilakukan manusia ada batasan dan ada etiknya, melihat realita dikantorku seakan konsep utama manusia sebagai mahluk sosial terlaksana dengan baik, tanpa ada sedikit cacat yang terlihat, dengan keadaan mulus bagai langit tanpa awan, tapi dibalik kemulusan itu kerjasama yang dilakukan adalah kerjasama dalam hal kebatilan mereka malakukakan beberpa hal yang outputnya kan merugikan manusia disentereo kabupaten kolus.
Mereka melakukan nepotisme, korupsi, tanda tangan palsu, disuap dan masih banyak kerjasama yang mereka lakukan, aku disitu sebagai saksi dengan mata telanjang dan telingan terpampang seakan  hatin aku tertusuk,  seakan  saya disitu mati dalam kebodohanku, mulut ini tidak bisa berbuat apa-apa, tangan ini hanya bisa memainkan jari ketakutan dan ketidak sepakatan, hati ini menagis tanpa mengelurakan air, jantung ini berdetak tanpa mengnal lelah karena seakan dikejar anjing, mata ini sebagai monitor yang menyalurkan ketakutan yang dibawa oleh sensori menuju keotak untuk disalurkan kepada seluruh parsial-parsial tubuhku.
Waktu terus bergulir seakan dunia semakin hari semakin membenci mahluk yang namanya manusia, bukan benci secara fisiknya tapi benci secara ahlaknya, karena pada hakikatnya manusia kalau diambil kata dari bahsa arab memang manusia itu ada dua bentuk kalimat yang pertama itu holako yang dalam kata kerjanya menjadi mahluk yang berarti yang diciptakan oleh sang pencipta yaitu kholik, dalam hal ini dimanifestasikan menjadi bentuk fisik manusia. Kemudian dari kata yang kedua yaitu khulukun yang bentuk kata kerjanya menjadi ahlak atau dimanifestasikan menjadi budi pekerti atau moral manusia, maka dalam hal ini bumi bukan membenci secara fisik, tapi bumi membeci manusia  secara moralnya yang buruk yang sealu berambisi dengan kepentingan-kepentingan untuk memuaskan dirinya sendiri mulai kebejatan hawa nafsunya seperti, merusak hutan, membunuh hewan yang menjadi keseimbangan berjalanya alam ini. itulah manusia yang serakah, bukan hanya itu yang dilakukan manusia. Manusia juga melakuakan kecurangan-kecurangan dengan manusia sendir,i mulai dari berlaku riba, membohongi saudara sendiri sampai pada tingkatan tinggi yaitu yang biasa disebut KKN (korupsi kolusi dan nepotisme). Itu semua adalah keadaan yang setaip hari aku saksikan dalm monitor orsinil kantorku.
Bulan saakan ikut protes dengan keserakahan manusia, terlihat dimalam hari yang nan indah bulan seakan membisiku untuk memberanikan diri untuk melaporkan kejadian yang terjadi didunia nafkahku, pikiranku selalu berperang antara ya dan tidak, karena memang pada hakikatnya manusia adalah mahluk yang diciptakan terakhir, sehingga dalam diri manusia terutama pada hati manusia yang menjadi sutradara diri manusia, terkumpul  esensi dari malaikat, jin, setan, iblis, sehinga keadaan itu membuat batin dan pikiranku selalu berperang. Antara aku harus menjadi oposisi  atau aku akan tetap menjadi budak para pecundang bangsa, tapi semua itu tak mampu aku memutuskanya karena semua itu ada konsekuensi yang aku jalani nantinya.
Matahari pagi mulai muncul kembali dengan wajah yang lebih cerah, membuat tanaman mersa senang karena kebutuhan pokok mereka terpenuhi, tidak hanya tubuhan yang mersa senang hewan-hewanpun merasa senang dengan kehadiran sang raja surya yang memberikan vitamin K pada tulangnya, manusia  sebagai mahluk yang tak punya hati nurani juga ikut merasa senang dengan  kedantangan sang raja surya penyuplai cahaya untuk seluruh mahluk yang tinggal di galaksi. Seperti biasaanya aku berangkat kekantor menggunakan sepada motor bututku yaitu Astrea tahun 45, dengan kondisi ketika berlari bareng dengan kerbau mungkin kecepatanya sama, dengan rasa senang aku berangkat kekantor dengan dianter oleh ibundaku tercinta sampai batas pintu rumahku, dengan diakhiri salaman dan cium tangan,  juga diiringan doa sang bunda yang berbunyi. ”hati-hati di jalan nak dan jadilah manusia yang jujur dalam keadaan dan tempat manapun, ingat nak Allah SWT tidak tidur dia punya dua mahluk pencatat pencatat yaitu malaikat  rokib dan malaikat atid yang akan mencatat amal buruk dan  baikmu” mendengar pesan sang ibu membuat hatiku seakan luluh lantah tak mempunayi daya apapun membuat tulang-tulang ini seakan tak ada kekutan kalsium dan  besi yang terkadung didalamnynya. Denga terbatah-batah aku mengucapkan kata-kata balik pada ibuku ” “iya bu saya juga minta donya ibu”. Dengan hati yang gemuruh mendengar ucapan ibu tercinta, aku seakan tidak memerdulikan akan semua yang berada disampingku entah motor, sepeda seadainya didesaku ada kontenerpun suara kontener, tidak aku dengan suaranya dan tidak aku lihata wujudnya, tanapa terasa sampailah juga di kantor tercinta yang penuh dengan kemunafikan didalamya. Dengan hati-hati aku turun dari motorku, kemudian setandar motor aku turunkan supaya motor terbaiku tidak robah, helem terbaiku juga kucopot, semuanya peralatan penunjang bekendara aku lepas semua, sedikit demi sedikit aku langkahkan  kakiku menuju kantorku, sepintas aku melihat seakan ada setan dan jin yang baru keluar dari kantorku dengan membawa darah  dan daging para rakyat jelata yang tidak tau apa-apa. “tapi itu kayaknya hanya halusinasi saja” itu ujar hatiku’ perjalanan  aku lanjutkan dengan melakukan jalan yang penuh dengan wibawa, seakan saya sebagai perwakilan yang rakyat yang sesungguhnya  padahal saya hanya menjadi budak para pemegang kekuasan yang katanya menjadi bapak dari raktyat tapi kenyatanya mereka adalah ayah yang makan daging anaknya sendiri, mereka lebih kejam dari pada haraimau, harimau tidak akan pernah makan anaknya sendiri, tapi manusia makan darah dan daging anaknya sendiri, itu manusia bejat yang tidak punya perasaan. Sesamapainya aku di kantor, tanpa basa basi aku duduk ditempat duduk yang telah disediakan oleh rakyak untuk mahluk sebodoh aku. Taklama aku duduk, aku di panggil untuk menghadap atasan.
Sob........sob.......sob, itulah panggilan akrabku ketika di panggilolah  atasanku, tanpa menunggu beduk masjid, aku langsung mendekat tanapa ada rasa sungakan sedikitpun, dengan gaya pelari tingakat internasional, aku mendekati atasanku, dengan memasang wajah ketidak tahuan dan berpras ahlak sok taat kepada  atasan. Ada apa pak memanggil saya....? Sini duduk dulu sob, diruang yang penuh dengan AC yang menjadi manifestasi teriakan rakyat, dengan melihat TV yang menjadi manefestasi gambar-gambar orang miskin dipinggir jalan dengan melihat tumpikan file yang sok penting sebagai menifestasi kesalahan-keshalaan yang menumpuk pada pejabat-pejabat yang suka manipulasi.
Udara dalam ruangan tersa panas bagai panasnya matahari didunia Arabsaudi, membuat tubuh ini bercucuran keringat hingga baju kemeja yang aku pakai basah bagai tersiram air,  semua itu adalah simbol yang aku alami diruangan atasanku, disaat itu aku ditawari uang dengan tumpukan jumlah jari, tapi uang itu bukan sebagai sodakoh ataupun sebagai hibah dari atasan kepadaku karena kinerjaku yang sangat memuaskan atasan, ataupun uang itu adalah tunjangan gaji dari pemerintah untukku yang sudah lama aku mengabdi pada.  negara tapi uang itu adalah sebagai tahu sumpel untuk menutupi mulutku, dengan harapan aku tidak membeberkan kecurangan yang dilakukan oleh mereka, rasanya aku sedang berada pada jurang dengan angin besar dan tali yang untuk pegangan tinggal satu utas, kalau tali itu lepas maka aku akan terjatuh pada jurang tersebut, begitupun aku saat ini kalau aku tidak bisa menjaga imanku maka aku akan terperosok pada jurang kehinaan dengan menerima uang tersebut, dengan wajag bingung dan tak tau apa yang akan diucapakan, aku angkat kepalaku aku putar mataku  kekanan kekiri seakan aku serbagai detektif konan yang sedang mencari masalah kemudian diselesaikan, hari itu mungkin esensinya sama saya sedang melakukan pencarian apa yang akan saya lakukan disaat yang sangat menegangkan ini, lama aku diam tak bersuara tapi dengan badan yang bergoyang-goyang, sampai-samapi atasanku memenggilku dengan nada yang agak keras. “sob................Sob......., bagaimana....? rasanya pertannyan itu hanya sebagai suara semut yang tidak akan pernah terdengar oleh mahluk manapun kecuali oleh semut itu dan nabi sulaiman AS, suasana ruangan seakan menjadi jembatan wot siritol mustaqim, aku bingung dengan seribu kebingungan, dalam hati aku berdo’a kepada  Allah SWT Ya Allah berikan hamba kekuatan untuk menghadapi cobaan ini, Ya Allah Yang maha pemberi kekuatan Kuatnkanlah imanku dan jagalah aku dari fitnah dunia yang fana ini, dengan renungan itu pesan dari ibundaku juga tiba-tiba lewat dan mengingatkanku akal mana hal yang baik dan man hal yang buruk, dan menunujukanpada jalan yang lurus yaitu jalan meuju pada segala sesuatu yang diridhoi oleh Allah SWT, “hati-hati di jalan nak dan jadilah manusia yang jujur dalam keadaan dan tempat manapun, ingat nak Allah SWT tidak tidur dia punya dua mahluk pencatat pencatat yaitu malaikat  rokib dan malaikat atid yang akan mencatat amal buruk dan  baikmu”. Dengan itulah kebingungan yang ada dalam batinku sedikit demi sedikit hilang.
Sob ....itulah kata pertama yang aku dengar lagi dari atasanku, ya ada apa pak.....? kamu itu dari tadi ditanya bapak, Aduh Ma’af pak saya sedang banyak pikiran jadi kurang fokus dengan pertanyaan bapak” itulah alibi yang aku keluarkan supaya saya bisa mencari jawaban lain untuk menolak uang dengan jumlah sesuai tumpuk jariku, gini sob bapak ada proyek pembangunan jalan didesa, dan kamu adalah satu-satunya orang yang tau akan semua hal yang dilakukan bapak, jadi bapak minta kepada kamu untuk tutup mulut akan hal yang akan dilakukan bapak gitu sob maksundnya, pak aku bertanya sok polos dan sok tidak tau, suasana sudah agak mendingan membuat pikiranku bekerja dengan sedikit kejernihan.
Rasa takut memang sudah agak hilang dari jiwaku tapi apakah akau akan kuat denag semau cobaan ini yang sekarang sudah ada didepan mataku, apakah tidak adfa setan dyang sekatrang akan menariku kedalam lubang kesesatan kalu lubang itu sekarng sudah didepan mataku, tapi dengan rasa keberanian aku berniat dalam hati dan aku susun setrategi yang cukup baik dan lihai untuk menolak semua tawaran dari atyasanku walaupun itu hanya sebatas data tanpa aku diberi uang panas yang akan membakarku didunia dan di akherat nanti.
Dengan kterpaksaan aku ucapkan pada atasanku “dengan segala hormat dan ta’dimku pada panjenengan saya minta maaf yang sebesar-besarnya, saya tidak bisa bantu bapak dalam hal ini, mungin kalau ada hal lain yang ingin bapak inginkan dari saya selain hal yang sedemikan itu serupanya saya mungkin bisa bantu pak”. Suasana menjadi hening antar aku dan atasnku menjadi dua sejoli yang seakan tidak pernah kenal tidak mau kenalan, semua barang-barang tak bernyawa dalam ruangan itu seakaan menjadi saksi bisu atas keberanian aku dalam melakukan tindakan penolakan terhadap penghianatan terhadap rakyat jelat, yang ditipu denga kedok negara bersistem demokrasi, tapi nyatanya hanya sebagai label semata sedangkan prakteknya menjadi negara denga sistem kepentingan kau elit semata.
Denag rasa hormat dan ta’dimku pada atasanku aku dengan rasa sedikit kikuk, aku pamit untuk klembali ke meja kerja saya, pak saya pamit dulu pak, saya mau menyelesaikan tugasku pak”. Suasan hening itu tak membuat suaraku terdengar oleh atasanku, hinga aku mengulangi perkataanku tiga kali, setelah tiga kali atasanku mengatakan, sob tolonglah bapak, pak maaf dalam hal ini saya tiodak bisa membantu bapak, pak ingatlah firman Allah SWT. ”jangan tolong menolong dalm hal keburukan tapi tolong menolonglah dalam hal kebaikan”. Akhir kata itulah yang mengakhiri ekpedisiku dalam melawan hawa nafsuku dengan stimulus dari atasnku untuk disuap uang rakyat.